Kamis Pon: Yuk, Kenalan & Gaya Pakaian Tradisional Ngayogyakarta!

Table of Contents

Hai, Sobat Budaya! Kalian tahu nggak sih, sekarang setiap Kamis Pon, ASN dan pelajar di Jogja wajib pakai baju adat Yogyakarta alias gagrak Ngayogyakarta? Yup, nggak salah dengar kok! Aturan ini sebelumnya berlaku di Kamis Pahing, tapi sekarang pindah ke Kamis Pon. Nah, biar nggak salah kostum dan tetap santun, yuk kita kenalan lebih dalam sama busana gagrak Ngayogyakarta!

Busana Gagrak Ngayogyakarta
image just illustration

Kenapa Sih Harus Pakai Baju Adat?

Penting banget nih buat kita lestarikan warisan budaya, salah satunya ya busana gagrak Ngayogyakarta ini. Baju adat ini bukan cuma sekedar kain dan aksesoris, tapi juga sarat makna dan filosofi. Makanya, Dharma Wanita Persatuan (DWP) Bantul sampai ngadain pelatihan khusus lho! Kata Bu Endang Agus Budiraharja, Ketua DWP Bantul, “Penggunaan busana gagrak Ngayogyakarta ini salah satu warisan adiluhung yang patut kita pertahankan supaya anak cucu kita masih bisa melestarikannya.” Keren banget kan?

Belajar Langsung dari Ahlinya

Pelatihannya dipimpin langsung sama ahlinya, yaitu Ketua Paguyuban Abdi Dalem Bantul, Kanjeng Mas Tumenggung (KMT) Projosuwasono. Beliau ngejelasin filosofi Jawa tentang busana: “Ajining Dhiri Saka Lathi, Ajining Raga Saka Busana.” Artinya, harga diri seseorang ditentukan oleh ucapannya, sedangkan kehormatan seseorang ditentukan oleh busananya. Jadi, pakai baju adat itu bukan cuma buat gaya-gayaan, tapi juga menunjukkan rasa hormat kita terhadap budaya.

Apa Saja Sih Perlengkapannya?

Nah, ini dia yang paling ditunggu-tunggu! Apa aja sih yang harus dipakai?

Untuk Cowok (Pria):

  • Surjan: Baju khas Jawa.
  • Blangkon: Penutup kepala dengan mondolan di belakang. Mondolan ini melambangkan ketaatan kepada Tuhan.
  • Sinjang/Kain Panjang: Bawahan.
  • Setagen: Kain yang dililitkan di pinggang.
  • Kamus & Timang: Kepala sabuk dan gesper.
  • Keris: Senjata tradisional, bisa model branggah atau gayaman.
  • Selop: Alas kaki.
  • Aksesoris: Pelengkap penampilan.

Untuk Cewek (Wanita):

Lebih simpel nih daripada cowok:

  • Kebaya Kartini (tanpa kutu baru): Anggun dan elegan.
  • Ukel/Sanggul: Tata rambut, bisa juga pakai penutup kepala.
  • Sinjang/Kain Panjang: Bawahan.
  • Setagen: Kain yang dililitkan di pinggang.
  • Selop: Alas kaki.
  • Aksesoris: Pelengkap penampilan.

Cara Pakai Sinjang yang Benar

Pakai sinjang itu ada aturannya lho, nggak sembarangan lilit. Ada yang namanya wiru, yaitu lipatan pada sinjang. Wiru cowok beda sama wiru cewek.

  • Cowok: Wiru luar 7 atau 14 lipatan (lebar 5 cm), wiru dalam (pengasih) 5 atau 10 lipatan (lebar 2,5 cm).
  • Cewek: Wiru biasa selebar 2,5 cm.

Cara pakainya: wiru dalam dilipat ke kanan, lalu wiru luar di tengah (pas di pusar). Ikat pakai tali yang kuat ya, jangan pakai rafia. Habis itu, baru deh pakai setagen. Setagen bisa warna polos (merah, biru, kuning). Khusus cowok, boleh pakai setagen corek cindhe.

Pakai Atasan dan Pelengkapnya

Setelah pakai sinjang dan setagen, baru deh pakai atasannya. Cowok pakai surjan, cewek pakai kebaya. Cowok masih harus pakai blangkon, keris, dan selop. Detail surjan cowok: kerah (gulon inggil) tinggi 5 cm dengan 3 pasang kancing, kancing dada 2 buah, kancing di bawah dada 3 buah. Rapi dan teliti ya!

Etika Berbusana Gagrak Ngayogyakarta

Nggak cuma cara pakainya aja yang penting, tapi juga etika saat memakainya. Jangan nunjuk pakai jari telunjuk, tapi pakai ibu jari. Ngomong juga jangan keras-keras. Khusus cowok, kalau mau duduk nyender, kerisnya diputar dulu ke sisi kanan. Sopan santun tetap nomor satu!

Etika Berbusana
image just illustration

Nah, gimana? Sekarang udah paham kan tentang busana gagrak Ngayogyakarta? Semoga informasi ini bermanfaat ya. Yuk, kita lestarikan budaya Indonesia! Jangan lupa share pengalaman dan pendapat kalian di kolom komentar. Sampai jumpa di artikel menarik lainnya!

Posting Komentar