Dompet Kelas Menengah Menipis? Ini Trik Bertahan di Tengah Ekonomi Gak Pasti!

Table of Contents

Dompet Kelas Menengah Menipis? Ini Trik Bertahan di Tengah Ekonomi Gak Pasti?

Apa sih yang bisa kita pelajari dari artikel ini? Artikel ini membahas beberapa poin penting tentang kondisi ekonomi Indonesia saat ini, khususnya bagi kelas menengah. Kita akan melihat seberapa buruk kondisi perekonomian kita sebenarnya, bagaimana dampaknya ke keuangan kelas menengah, solusi yang sudah dilakukan sebagian orang, dan yang paling penting, apa yang sebaiknya kita lakukan untuk bertahan.

Jadi, buat kamu yang merasa dompet makin tipis di tengah situasi ekonomi yang gak pasti ini, artikel ini pas banget buat kamu!

Kelas menengah di Indonesia itu posisinya memang serba salah ya. Dibilang miskin ya enggak, tapi buat kaya juga susah. Ibaratnya tuh kayak kejepit. Padahal, meskipun hidup pas-pasan, kelas menengah ini punya peran penting banget sebagai penggerak ekonomi, terutama dalam hal konsumsi.

Karena dianggap punya kemampuan finansial lebih dari kelompok miskin, kelas menengah ini seringkali gak dapat bantuan sosial dari pemerintah. Padahal, banyak dari kita yang sehari-hari cuma hidup dari gaji yang pas-pasan aja, bahkan cenderung stagnan. Kondisi ini bikin kelas menengah jadi rentan banget jatuh miskin kalau ada guncangan ekonomi.

Naik kelas? Wah, itu juga susah banget. Survei tahun 2024 menunjukkan bahwa banyak warga kelas menengah usia produktif itu malah defisit tiap bulan. Pengeluaran lebih besar dari pendapatan, jadi ya gimana mau nabung, gimana mau kaya?

Nah, di saat kondisi kelas menengah lagi kurang oke gini, eh, ekonomi ke depan malah keliatannya makin suram. Awal tahun 2025 aja udah banyak indikator ekonomi yang kurang bagus, baik dari dalam maupun luar negeri.

Kalau sampai terjadi guncangan ekonomi yang lebih besar, kelas menengah, terutama yang menengah ke bawah, ini yang paling riskan. Bisa kena PHK, usaha bangkrut, atau malah terlilit utang. Serem kan?

Makanya, penting banget buat kita sebagai kelas menengah untuk cari cara gimana caranya bisa bertahan di tengah situasi ekonomi yang lagi berat ini. Yuk, kita bahas lebih dalam!

Seburuk Apa Sebenarnya Kondisi Perekonomian Indonesia?

Seburuk Apa Sebenarnya Kondisi Perekonomian Indonesia

Awal tahun 2025 ini, beberapa indikator makroekonomi menunjukkan bahwa ekonomi Indonesia lagi kurang sehat. Tekanan datang dari mana-mana, baik dari luar negeri maupun dari dalam negeri sendiri.

Setidaknya ada empat indikator yang nunjukkin pelemahan ini:

  1. Deflasi: Harga-harga barang dan jasa malah turun.
  2. Rupiah Tertekan: Nilai tukar rupiah terhadap dollar AS melemah.
  3. Pasar Saham Amblas: Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun drastis.
  4. APBN Anomali: Penerimaan negara dari pajak jeblok, bikin APBN defisit di awal tahun.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, Indeks Harga Konsumen (IHK) itu deflasi terus-terusan di Januari dan Februari 2025. Bahkan di Februari, deflasi tahunan juga terjadi, yaitu 0,09 persen. Terakhir kali deflasi tahunan separah ini itu 25 tahun lalu!

Nilai tukar rupiah juga gak kalah bikin pusing. Awal tahun 2025, nilai rupiah terhadap dollar AS udah di kisaran Rp 16.200-Rp 16.500. Sempat nyentuh Rp 16.575 per dollar AS di akhir Februari. Terakhir kali rupiah selemah ini itu lima tahun lalu.

Pasar saham juga ikutan lesu. IHSG amblas sampai level 6.300 di akhir Februari 2025. Ini koreksi 5 persen dari minggu sebelumnya dan jadi rekor terendah sejak 2021.

Keuangan negara juga lagi gak baik-baik aja. APBN 2025 sampai Februari udah defisit Rp 31,2 triliun. Padahal, biasanya APBN itu masih surplus di awal tahun, kecuali kalau lagi ada krisis ekonomi. Defisit ini salah satunya gara-gara penerimaan pajak yang anjlok.

Menurut Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Mohammad Faisal, indikator-indikator ini jelas nunjukkin ekonomi lagi memburuk. Sayangnya, kebijakan pemerintah yang ada malah bikin masalah makin runyam, bukannya menyelesaikan masalah pelemahan ekonomi.

Situasi ini bisa bikin pertumbuhan ekonomi tahun ini melambat, bahkan di bawah 5 persen. Kebijakan yang salah arah malah bisa menekan pertumbuhan ekonomi, bukannya mendorong pertumbuhan yang lebih tinggi.

Bagaimana Kondisi Finansial dan Daya Beli Kelas Menengah Saat Ini?

Bagaimana Kondisi Finansial dan Daya Beli Kelas Menengah Saat Ini

Deflasi bulanan dan tahunan di awal 2025, bahkan menjelang Ramadhan, ini jadi sinyal kuat daya beli masyarakat lagi lemah. Biasanya kan kalau mau Ramadhan, konsumsi masyarakat naik, harga-harga juga ikut naik, alias inflasi. Lha ini kok malah deflasi? Aneh kan?

Sebagai perbandingan, tahun lalu pas Ramadhan mulai tanggal 11 Maret 2024, inflasi bulanan di Februari 2024 itu 0,37 persen. Jauh beda sama kondisi sekarang yang deflasi.

Pemerintah sih bilang deflasi ini gara-gara diskon listrik 50 persen selama Januari-Februari 2025. Tapi banyak yang gak yakin cuma itu penyebabnya. Peneliti Ekonomi dari Bright Institute, Muhammad Andri Perdana, bilang, meskipun tanpa diskon listrik, inflasi tahunan tetap bakal rendah banget.

Soalnya, deflasi tahunan sekarang ini juga dipengaruhi deflasi bulanan yang udah terjadi lima bulan berturut-turut di 2024. Jadi, emang daya beli masyarakat lagi bermasalah.

“Kondisi yang bikin deflasi setahun terakhir ini ya daya beli masyarakat yang rendah karena pendapatan terbatas,” kata Pak Andri.

Daya beli lesu ini salah satunya dipicu sama lapangan kerja yang menyusut. Data dari Kementerian Ketenagakerjaan nunjukkin, PHK di 2024 naik 20,21 persen dibanding 2023. Di awal 2025 pun, PHK masih terus terjadi di beberapa industri padat karya.

Di sisi lain, harga kebutuhan pokok terus naik, makin menekan kelas menengah. Data Mandiri Spending Index (MSI) nunjukkin, pendapatan bersih masyarakat cuma naik 15 persen selama 2017-2023. Sementara itu, Indeks Harga Konsumen (IHK) naiknya lebih tinggi, 18,5 persen. Jadi, kenaikan pendapatan gak sebanding sama kenaikan harga.

Selain itu, daya beli juga melemah karena jumlah kelas menengah yang menyusut. Data BPS nunjukkin, populasi kelas menengah turun drastis, dari 57,33 juta jiwa di 2019 jadi 47,85 juta jiwa di 2024. Banyak yang turun kelas nih kayaknya.

Solusi Apa yang Sejauh Ini Ditempuh Sebagian Warga untuk Berkelit dari Situasi Sulit?

Solusi Apa yang Sejauh Ini Ditempuh Sebagian Warga untuk Berkelit dari Situasi Sulit

Karena tekanan ekonomi, sebagian kelas menengah akhirnya terpaksa ngutang. Ada yang pinjam ke teman atau keluarga, ada juga yang ke bank atau pinjaman online.

Platform buy now pay later (BNPL) dan pinjaman online jadi solusi cepat karena prosesnya lebih mudah dibanding pinjam ke bank yang ribet administrasinya.

Buktinya, penyaluran kredit BNPL dan pinjaman online makin naik. Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) nunjukkin, kredit BNPL per Januari 2025 udah Rp 26,69 triliun, naik 44,19 persen dibanding tahun lalu. Pinjaman online juga sama, saldonya Rp 78,5 triliun, naik 29,94 persen.

Kredit rumah tangga dari bank juga ikutan naik. Per Desember 2024, kredit rumah tangga udah Rp 1.836 triliun, tumbuh 10,38 persen. Lebih tinggi dari pertumbuhan tahun sebelumnya.

Selain ngutang, kelas menengah juga banyak yang pakai tabungan buat hidup sehari-hari. Istilahnya sekarang lagi populer “mantab”, alias makan tabungan.

Survei Konsumen Bank Indonesia nunjukkin, proporsi pendapatan yang disimpan (saving to income ratio) turun dari 16,7 persen di Februari 2024 jadi 14,7 persen di Februari 2025. Sebaliknya, pendapatan yang dipakai buat konsumsi (average propensity to consume ratio) malah naik. Artinya, kita makin banyak ngabisin duit tabungan buat kebutuhan sehari-hari.

Direktur Eksekutif Information Communication Technology (ICT) Institute, Heru Sutadi, ngingetin, meskipun pinjaman instan itu gampang, tapi risikonya juga gede. Bunganya jauh lebih tinggi dari kredit bank. Bunga yang tinggi ini bisa jadi beban berat dan ujung-ujungnya malah gagal bayar. Jadi, harus hati-hati banget kalau mau pinjam online.

(4) Apa yang Semestinya Dilakukan Kelas Menengah untuk Bertahan?

Apa yang Semestinya Dilakukan Kelas Menengah untuk Bertahan

Nah, ini yang paling penting! Ada beberapa langkah yang bisa kita lakukan buat bertahan di situasi ekonomi yang sulit ini:

Pertama, atur keuangan. Mulai dari identifikasi semua pengeluaran rutin, bedain mana kebutuhan, mana keinginan, dan mana yang bisa ditabung.

Idealnya, anggaran buat kebutuhan pokok (rumah, makan, transportasi, cicilan) itu sekitar 70-85 persen dari total penghasilan. Buat keinginan (hiburan, hobi, olahraga) sekitar 5-10 persen. Sisanya, 10-20 persen, baru dialokasikan buat tabungan, dana darurat, dan investasi. Prinsip dasar ini penting banget buat ngelola keuangan.

Menurut Head of Deposit and Wealth Management UOB Indonesia, Vera Margaret, kita juga perlu sadar diri buat nahan keinginan yang kurang penting. Sekarang lagi musim gerakan mengurangi konsumsi berlebihan dan gaya hidup minimalis (no buy challenge).

Survei online nunjukkin, 68 persen responden udah ikut no buy challenge buat nyiasati ekonomi yang gak pasti ini. Kebanyakan mereka milih beralih ke produk atau merek yang lebih murah.

“Dari survei yang kita lakukan, semua kelas, dari bawah sampai atas, setuju kalau kita perlu no buy challenge. Gak beli barang yang gak perlu, gak jajan kalau udah makan siang,” kata Bu Vera.

Setelah keuangan tertata, langkah selanjutnya nabung dan investasi. Investasi bisa jadi pilihan bagus buat kelas menengah di saat inflasi atau harga-harga naik.

“Dalam kondisi sekarang, dengan suku bunga cenderung turun, produk investasi yang lagi banyak dipilih itu obligasi,” ujar Bu Vera.

Ringkasan Tips Bertahan untuk Kelas Menengah:

  • Atur Keuangan: Bedakan kebutuhan dan keinginan, buat anggaran yang jelas.
  • Prioritaskan Kebutuhan: Tahan keinginan konsumtif yang tidak perlu.
  • No Buy Challenge: Kurangi belanja barang-barang yang tidak esensial.
  • Cari Alternatif Lebih Murah: Beralih ke produk atau merek yang lebih terjangkau.
  • Menabung dan Investasi: Sisihkan sebagian pendapatan untuk tabungan dan investasi, pertimbangkan obligasi.

Semoga tips ini bisa membantu kita sebagai kelas menengah untuk bertahan dan melewati masa-masa sulit ekonomi ini ya! Gimana menurut kamu? Ada tips lain yang mau kamu tambahin? Yuk, share di kolom komentar!

Posting Komentar