Dr. Tatag Budiardi: Kisah Inspiratif Akademisi Akuakultur dari Depok!

Kenalan yuk sama Dr. Tatag Budiardi! Beliau ini seorang akademisi keren di bidang akuakultur. Lahirnya di Nganjuk, Jawa Timur, tahun 1963. Dari kecil, cita-citanya sebenarnya pengen jadi dokter. Tapi, takdir membawanya ke dunia perikanan, dan ternyata di situlah passion dan dedikasinya bersemi. Uniknya, masa kecil beliau di daerah yang bahkan belum punya TK lho! Jadi, langsung deh masuk SD meskipun umurnya belum cukup.
Perjalanan Akademik dan Awal Mula Ketertarikan Akuakultur¶
Dr. Tatag ini sekolah menengah atasnya di SMA Kertosono. Setelah itu, beliau melanjutkan kuliah di Institut Pertanian Bogor (IPB). Jalurnya juga nggak main-main, lewat Proyek Perintis (PP) 2. Ini jalur masuk tanpa tes, dan dari sekolahnya cuma dua orang aja yang diterima! Awal kuliah di TPB (Tingkat Persiapan Bersama) memang terasa berat. Tapi untungnya, banyak kakak tingkat yang bantu. Berkat bantuan itu, Dr. Tatag jadi makin tertarik dan betah di dunia akademik. Beliau menempuh pendidikan S1 sampai S3 di IPB, semuanya fokus di bidang budidaya perairan alias akuakultur.
Terpikat Pesona Akuakultur¶
Ketertarikan Dr. Tatag pada perikanan itu tumbuh gara-gara dikenalin sama kakak tingkat tentang konsep akuakultur. Buat beliau, akuakultur itu beda banget sama cuma nangkap ikan di laut atau sungai. Akuakultur itu bisa memproduksi. Artinya, kita bisa bikin ikan jadi lebih banyak, lebih besar, lebih cepat gede, dan kualitasnya lebih bagus. Bahkan, akuakultur juga bisa mengembangkan spesies ikan liar buat dibudidayakan. Keren kan? Nggak cuma itu, inovasi-inovasi kayak bikin ikan jadi jantan semua biar cepat tumbuh, atau memperbaiki warna ikan hias, itu juga bagian dari akuakultur.
Aktif Berorganisasi Demi Akuakultur¶
Keaktifan Dr. Tatag nggak cuma di akademik aja. Beliau juga aktif di organisasi kemahasiswaan. Buktinya, beliau pernah jadi Wakil Ketua Himpunan Mahasiswa Perikanan (Himarin) lho! Perjalanan akademik dan organisasi ini makin meyakinkan beliau kalau akuakultur itu penyelamat dunia dalam hal penyediaan pangan, khususnya protein hewani yang aman dari penyakit hewan (zoonosis). Indonesia juga punya sumber daya air yang melimpah, dan teknologi akuakultur juga makin maju pesat. Hasilnya, produksi ikan budidaya terus meningkat tiap tahunnya. Dr. Tatag juga sering bilang, makna religius ikan itu juga kuat. Dalam Al-Qur’an disebutkan kalau bangkai ikan itu halal dimakan tanpa perlu disembelih. Masya Allah!
Karier Akademik dan Pengabdian di IPB¶
Setelah lulus S1 dari IPB, Dr. Tatag sempat kerja di lapangan dulu. Beliau jadi manajer produksi di perusahaan budidaya udang di Banten dan Indramayu. Tapi, kayaknya jiwa akademisnya memang kuat banget. Kecintaannya pada dunia pendidikan membawanya kembali ke kampus. Sempat jadi dosen di Universitas Djuanda selama 10 tahun, akhirnya Dr. Tatag balik lagi ke IPB tahun 1997, dan terus mengabdi di sana sampai sekarang.
Fokus Riset Sistem dan Teknologi Akuakultur¶
Sebagai seorang akademisi, Dr. Tatag aktif banget dalam berbagai penelitian. Fokusnya selalu di sistem, teknologi, dan manajemen akuakultur. Dalam 10 tahun terakhir, riset yang paling beliau dalami adalah budidaya ikan sidat (Anguilla sp.). Ini makin memperdalam kecintaan beliau pada akuakultur. Dengan semangat membara, Dr. Tatag nggak pernah bosan menyampaikan ke mahasiswa kalau teknologi akuakultur itu harus terus dikembangkan. Kenapa? Karena perannya penting banget buat masa depan dunia sebagai pemasok utama pangan global yang bergizi tinggi dan menyehatkan.
Metode Mengajar yang Asyik dan Interaktif¶
Sebagai dosen Budidaya Perairan di IPB, Dr. Tatag selalu berusaha menyesuaikan cara mengajarnya dengan perkembangan zaman. Pendekatan beliau yang bersahabat dan interaktif bikin suasana belajar jadi lebih menyenangkan. Mahasiswa juga jadi lebih mudah dekat dan nyaman sama beliau, apalagi pas lagi bimbingan tugas akhir. Dr. Tatag ini memang dosen yang friendly banget!
Tantangan dan Harapan untuk Masa Depan Akuakultur¶
Dalam perjalanan kariernya sebagai dosen, Dr. Tatag juga menghadapi tantangan. Salah satunya adalah perbedaan lintas budaya dan generasi, terutama dalam pendekatan ke mahasiswa. Sebagai Kepala Divisi Manajemen Akuakultur, beliau terus mendorong inovasi di bidang akuakultur. Inovasi ini mencakup semua aspek, mulai dari input, proses, sampai output secara keseluruhan.
Akuakultur untuk Ketahanan Pangan Global¶
Dr. Tatag percaya banget kalau masa depan dunia itu sangat bergantung pada pangan. Dan di sinilah perikanan, khususnya akuakultur, memegang peranan penting dalam ketahanan pangan global. Populasi dunia terus bertambah, otomatis kebutuhan akan sumber protein berkualitas tinggi juga makin meningkat. Akuakultur adalah solusi yang menjanjikan untuk memenuhi kebutuhan ini secara berkelanjutan.
Generasi Muda, Kunci Kemajuan Akuakultur¶
Oleh karena itu, Dr. Tatag punya harapan besar buat generasi muda. Beliau berharap generasi muda terus berkarya, semangat belajar, dan berkontribusi dalam pengembangan akuakultur. Akuakultur ini bukan cuma sekadar profesi, tapi juga jalan hidup untuk memberikan dampak positif bagi kehidupan banyak orang. Buat Dr. Tatag, akuakultur adalah panggilan jiwa untuk ikut serta membangun masa depan pangan dunia yang lebih baik.
Gimana, inspiratif banget kan kisah Dr. Tatag Budiardi ini? Yuk, kasih pendapatmu di kolom komentar! Kira-kira inovasi apa lagi ya yang bisa dikembangkan di bidang akuakultur?
Posting Komentar