Gilang Ramadhan Gerakkan Musik Tradisi: Bangun Ekosistem Lokal di Banyuwangi!

Table of Contents

Gilang Ramadhan Gerakkan Musik Tradisi

Kabar seru datang dari Banyuwangi! Drummer legendaris Indonesia, Gilang Ramadhan, baru-baru ini bikin gebrakan di kota Gandrung. Dia datang gak sendirian, lho! Gilang memboyong serta 3 Lembaga Manajemen Kolektif (LMK) sekaligus ke Banyuwangi. Kedatangan mereka ini bukan tanpa alasan, tapi untuk menggerakkan musik tradisi dan membangun ekosistem lokal yang lebih kuat. Keren banget, kan?

Boyong 3 LMK ke Banyuwangi

Tiga LMK yang dibawa Gilang ini punya peran masing-masing yang penting banget dalam industri musik, khususnya musik tradisi. Pertama, ada Langgam Kreasi Budaya (LKB). LMK ini fokus untuk mengelola hak cipta para pencipta lagu. Jadi, para komposer musik tradisi bisa lebih tenang karena karya mereka diurus hak ciptanya.

Kedua, ada Citra Nusa Swara (CNS). Nah, kalau CNS ini khusus untuk mengelola hak terkait para pemain musik. Bayangin aja, pemain musik tradisi yang sering tampil di berbagai acara, hak mereka juga perlu diperhatikan, dan CNS hadir untuk itu. Terakhir, ada Pro Karindo Utama. LMK yang satu ini gak kalah penting, karena mereka mengelola hak terkait produser musik. Produser musik tradisi yang berjasa mempopulerkan karya-karya musik juga perlu mendapatkan hak yang semestinya.

Acara penyambutan Gilang dan tim LMK ini berlangsung meriah di Pendopo Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Banyuwangi. Puluhan seniman lokal Banyuwangi juga hadir untuk menyambut dan berdiskusi langsung dengan Gilang Ramadhan. Suasana akrab dan penuh semangat terlihat jelas di acara tersebut. Semua yang hadir punya harapan besar untuk kemajuan musik tradisi Banyuwangi.

Lokakarya Musik Tradisi dengan Narasumber Kelas Dunia

Kedatangan Gilang Ramadhan ke Banyuwangi ini juga dirangkai dengan lokakarya musik tradisi. Lokakarya ini menghadirkan dua narasumber yang udah malang melintang di dunia musik. Siapa aja mereka? Tentu saja Gilang Ramadhan sendiri, dan satu lagi ada Wandra Restusiyan.

Wandra Restusiyan ini produser muda asal Banyuwangi yang dikenal punya dedikasi tinggi pada musik tradisional daerahnya. Dia juga punya pengalaman segudang dalam memproduksi musik tradisi yang kekinian. Kombinasi Gilang Ramadhan yang legendaris dan Wandra Restusiyan yang energik ini bikin lokakarya makin menarik dan berbobot. Para peserta lokakarya pasti dapat banyak ilmu dan inspirasi dari keduanya.

Gilang Ramadhan dalam lokakarya tersebut menjelaskan bahwa 3 LMK ini lahir dari rekomendasi kongres musik tradisi nusantara tahun 2021. Kongres tersebut difasilitasi langsung oleh Kementerian Pendidikan Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek). Pemerintah memang punya perhatian besar untuk memajukan musik tradisi Indonesia.

“Tujuannya jelas, untuk mendukung pelaku musik tradisi agar memperoleh hak ekonomi yang layak,” kata Gilang dengan semangat. Ia menambahkan, pengelolaan royalti yang transparan dan terstruktur adalah kunci utama. Dengan sistem yang baik, diharapkan produser, pemain, dan pencipta musik tradisi bisa merasakan manfaat ekonomi secara maksimal dari karya-karya mereka. Ini penting banget untuk keberlangsungan musik tradisi di masa depan.

Mekanisme Pengumpulan dan Pembayaran Royalti

Harry Kusriyono, Manajer Pelaksana Harian LMK Musik Tradisi, juga hadir untuk menjelaskan teknis mekanisme pengumpulan dan pembayaran performing royalty. Ini bagian penting banget, karena seringkali seniman musik tradisi kurang paham soal hak royalti ini.

Harry menjelaskan secara rinci prosesnya, mulai dari pendaftaran acara, pembayaran royalti ke rekening Lembaga Manajemen Kolektif Nasional (LMKN), sampai penerbitan sertifikat pembayaran yang berisi daftar lagu dan data terkait. Prosesnya ternyata cukup mudah dan transparan.

Ia juga menegaskan bahwa kewajiban pembayaran performing royalty ada pada penyelenggara acara. Baik itu acara live maupun pemutaran rekaman, penyelenggara wajib membayar royalti. Ini penting untuk dipahami semua pihak, agar hak-hak para musisi tradisi terlindungi.

Tantangan dan Peluang Musik Tradisi di Era Modern

Wandra Restusiyan, sebagai produser musik Banyuwangi, juga berbagi pandangannya soal tantangan memproduksi musik tradisi di era modern. Ia juga cerita pengalamannya mengintegrasikan nilai-nilai lokal ke dalam karya musiknya. Wandra ini contoh nyata produser muda yang sukses mengembangkan musik tradisi dengan sentuhan modern.

Menurut Wandra, dukungan LMK berbasis musik tradisi ini sangat penting. “Dengan dukungan LMK, kita tidak hanya menjaga kekayaan budaya, tetapi juga memastikan bahwa musik tradisional Indonesia dapat bersaing di tingkat global,” ujarnya penuh keyakinan. Musik tradisi punya potensi besar untuk go international, asalkan dikelola dengan baik dan didukung semua pihak.

Wandra menambahkan kabar gembira, di Banyuwangi sendiri sudah ada 4 produser musik yang merasakan manfaat dari 3 LMK ini. Mereka adalah PT Onenada, Ayusurati (Thalita Musik), Prima HP, dan Emil B Record. Ini bukti nyata bahwa LMK ini benar-benar bekerja dan memberikan dampak positif bagi ekosistem musik tradisi.

“Melalui lokakarya ini, para pelaku seni diharapkan semakin sadar akan pentingnya perlindungan hak kekayaan intelektual,” kata Wandra. Ia juga berharap para seniman musik tradisi semakin termotivasi untuk terus berkarya dan membawa musik tradisi Nusantara menuju masa depan yang lebih cerah. Musik tradisi bukan hanya sekadar hiburan, tapi juga identitas bangsa yang harus kita jaga dan lestarikan.

Musik tradisi Indonesia itu kaya banget, dari Sabang sampai Merauke punya ciri khas masing-masing. Sayang banget kalau kekayaan ini gak dikelola dengan baik. Nah, dengan adanya LMK dan gerakan dari tokoh seperti Gilang Ramadhan ini, angin segar berhembus untuk musik tradisi. Semoga ekosistem musik tradisi di Banyuwangi, dan juga di seluruh Indonesia, semakin berkembang dan maju.

Gimana pendapatmu tentang gerakan Gilang Ramadhan ini? Yuk, share di kolom komentar! Kita diskusi seru tentang musik tradisi Indonesia!

Posting Komentar