Salat Arbain di Madinah: Kenapa Istimewa Banget Saat Haji?
Bulan Dzulhijjah semakin dekat, menandakan musim haji sebentar lagi tiba. Jutaan umat Muslim dari seluruh penjuru dunia, termasuk Indonesia, bersiap menyambut panggilan suci ini. Perjalanan haji biasanya dibagi menjadi dua gelombang utama bagi jemaah Indonesia. Gelombang pertama biasanya tiba lebih dulu di Madinah, sementara gelombang kedua langsung menuju Makkah.
Bagi jemaah gelombang pertama, kesempatan berada di Madinah sebelum puncak haji adalah momen yang sangat dinanti. Kota ini adalah tempat bersemayamnya Rasulullah Muhammad SAW. Jadi, sebelum berangkat ke Makkah untuk memulai rukun haji, jemaah punya waktu untuk “bertamu” ke makam Nabi dan berziarah ke pemakaman Baqi’. Tapi, ada satu ibadah sunnah yang jadi incaran banyak jemaah di Madinah, yaitu salat Arbain di Masjid Nabawi.
Apa Itu Salat Arbain?¶
Mungkin sebagian dari kamu yang pernah umrah atau haji, atau yang punya keluarga pernah ke sana, sudah tidak asing lagi dengan istilah salat Arbain ini. Ini bukan salat dengan tata cara khusus, melainkan salat fardu berjamaah yang dilakukan dengan disiplin luar biasa.
Menurut Tuntunan Manasik Haji dan Umrah dari Kementerian Agama (Kemenag) Republik Indonesia, salat Arbain secara sederhana diartikan sebagai salat fardu berjamaah sebanyak 40 waktu di Masjid Nabawi, Madinah. Kata “Arbain” sendiri berasal dari bahasa Arab yang artinya “empat puluh”. Jadi, sesuai namanya, salat ini memang terkait dengan angka 40.
Secara istilah, salat Arbain merujuk pada praktik melaksanakan salat lima waktu secara berjamaah di Masjid Nabawi selama 40 waktu salat berturut-turut. Ini setara dengan salat lima waktu selama kurang lebih delapan hari penuh tanpa terputus. Tantangannya adalah harus selalu salat berjamaah dan tidak ketinggalan takbiratul ihram bersama imam. Kedisiplinan ini yang menjadikan Salat Arbain begitu spesial dan berat.
Tata Cara Pelaksanaan Salat Arbain¶
Tata cara salat Arbain sebenarnya sama persis dengan tata cara salat fardu sehari-hari yang kita kerjakan. Yang membedakan hanyalah konsistensi dan lokasi pelaksanaannya. Kamu harus melaksanakan seluruh salat fardu, yaitu Subuh, Zuhur, Asar, Magrib, dan Isya, secara berjamaah di Masjid Nabawi.
Kuncinya adalah berjamaah, di Masjid Nabawi, selama 40 waktu salat berturut-turut. Ini berarti kamu harus menjaga rutinitas salat lima waktu di masjid tersebut dari awal hingga akhir periode delapan hari. Usahakan untuk selalu hadir tepat waktu agar bisa mengikuti takbiratul ihram bersama imam. Terlewat satu waktu salat saja bisa dianggap “membatalkan” Arbain, dan kamu harus memulai hitungan 40 dari awal lagi. Makanya, perlu perencanaan dan manajemen waktu yang baik selama di Madinah.
Bayangin, kamu harus mengatur jadwal harianmu sedemikian rupa agar selalu berada di Masjid Nabawi saat waktu salat tiba. Ini termasuk bangun lebih pagi untuk Subuh, memastikan tidak tertidur di antara waktu salat, dan menjaga kondisi fisik agar tetap fit selama delapan hari tersebut. Semua demi meraih keutamaan yang dijanjikan.
Niat salat Arbain sama saja dengan niat salat fardu lima waktu biasa. Kamu cukup meniatkan dalam hati untuk salat Subuh, Zuhur, Asar, Magrib, atau Isya, dan karena sedang berjamaah, tambahkan niat menjadi makmum atau imam. Berikut adalah contoh bacaan niat salat fardu lima waktu dalam bahasa Arab, transliterasi, dan artinya:
1. Niat Salat Subuh
أُصَلِّى فَرْضَ الصُّبْحِ رَكْعَتَيْنِ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ أَدَاءً (مَأْمُوْمًا/إِمَامًا) لِلّٰهِ تَعَالٰى
Ushalli fardlash shub-hi ra’ataini mustaqbilal qiblati adaa’an (ma’muman/imaman) lillaahi ta’aalaa. Allahu Akbar.
Artinya: “Aku sengaja salat fardu Subuh dua rakaat menghadap kiblat (ma’mum/imam) karena Allah. Allah Mahabesar.”
2. Niat Salat Zuhur
أُصَلِّى فَرْضَ الظُّهْرِ أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ أَدَاءً (مَأْمُوْمًا/إِمَامًا) لِلّٰهِ تَعَالٰى
Ushalli fardhadh dhuhri arba’a raka’aatin mustaqbilal qiblati adaa’an (ma’muman/imaman) lillaahi ta’aalaa. Allahu Akbar.
Artinya: “Aku sengaja salat fardu Zuhur empat rakaat menghadap kiblat (mak’mum/imam) karena Allah. Allah Mahabesar.”
3. Niat Salat Asar
أُصَلِّى فَرْضَ الْعَصْرِ أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ أَدَاءً (مَأْمُوْمًا/إِمَامًا) لِلّٰهِ تَعَالٰى
Ushalli fardhal ‘asri arba’a raka’aatin mustaqbilal qiblati adaa’an (ma’muman/imaman) lillaahi ta’aalaa. Allahu Akbar.
Artinya: “Aku sengaja salat fardu Asar empat rakaat menghadap kiblat (ma’mum/imam) karena Allah. Allah Mahabesar.”
4. Niat Salat Magrib
أُصَلِّى فَرْضَ الْمَغْرِبِ ثَلَاثَ رَكَعَاتٍ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ أَدَاءً (مَأْمُوْمًا/إِمَامًا) لِلّٰهِ تَعَالٰى
Ushalli fardhal maghribi tsalaatsa raka’aatin mustaqbilal qiblati adaa’an (ma’muman/imaman) lillaahi ta’aalaa. Allahu Akbar.
Artinya: “Aku sengaja salat fardhu Magrib tiga rakaat menghadap kiblat (ma’mum/imam) karena Allah. Allah Mahabesar.”
5. Niat Salat Isya
أُصَلِّى فَرْضَ الْعِشَاءِ أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ أَدَاءً (مَأْمُوْمًا/إِمَامًا) لِلّٰهِ تَعَالٰى
Ushalli fardhal isya-i arba’a raka’aatin mustaqbilal qiblati adaa’an (ma’muman/imaman) lillaahi ta’aalaa. Allahu Akbar.
Artinya: “Aku sengaja salat fardu Isya empat rakaat menghadap kiblat (ma’mum/imam) karena Allah. Allah Mahabesar.”
Intinya, niatnya ya niat salat fardu biasa, hanya saja dilakukan dengan penuh komitmen dan konsistensi di Masjid Nabawi selama 40 waktu berturut-turut.
Keutamaan Salat Arbain di Masjid Nabawi¶
Nah, ini dia bagian yang paling ditunggu-tunggu dan menjadi motivasi utama banyak jemaah untuk berjuang menyelesaikan 40 waktu salat di Masjid Nabawi. Ada beberapa keutamaan yang disebutkan terkait ibadah ini, yang didasarkan pada sebuah hadis. Hadis yang sering dijadikan rujukan adalah dari Anas bin Malik, di mana Nabi Muhammad SAW bersabda:
مَنْ صَلَّى فِي مَسْجِدِي أَرْبَعِينَ صَلَاةً، لَا تَفُوتُهُ صَلَاةٌ، كُتِبَتْ لَهُ بَرَاءَةٌ مِنَ النَّارِ، وَنَجَاةٌ مِنَ الْعَذَابِ، وَبَرِئَ مِنَ النِّفَاقِ
“Barang siapa salat di masjidku empat puluh salat tanpa ketinggalan sekalipun, dicatatkan baginya kebebasan dari neraka, keselamatan dari siksaan dan ia bebas dari kemunafikan.” (HR. Ahmad no. 12.583 dan ath-Thabrani dalam al-Ausath no. 5.444)
Mari kita bedah satu per satu keutamaan luar biasa ini:
1. Kebebasan dari Neraka (بَرَاءَةٌ مِنَ النَّارِ - Bara’atun minan Nar)
Ini adalah keutamaan yang paling utama dan paling didamba. Melaksanakan salat Arbain dipercaya dapat menjadi sebab seseorang dibebaskan dari siksa api neraka. Bayangin, hanya dengan komitmen salat berjamaah selama delapan hari berturut-turut di tempat yang suci ini, kita bisa mendapatkan jaminan pembebasan dari hukuman terberat di akhirat. Tentu ini bukan janji yang main-main. Keutamaan ini menunjukkan betapa besar nilai ibadah yang dilakukan dengan penuh kesungguhan di tempat yang diberkahi.
2. Keselamatan dari Siksaan (نَجَاةٌ مِنَ الْعَذَابِ - Najatun minal Adzab)
Selain bebas dari neraka, Salat Arbain juga menjanjikan keselamatan dari berbagai bentuk siksaan. Siksaan ini bisa berupa siksa kubur, siksa di hari kiamat, atau bahkan kesulitan dan musibah di dunia. Dengan melindungi diri dari siksaan, ibadah ini memberikan rasa aman dan ketenangan bagi pelakunya, baik di dunia maupun di akhirat. Ini menunjukkan bahwa ketaatan yang konsisten membawa perlindungan ilahi.
3. Bebas dari Kemunafikan (وَبَرِئَ مِنَ النِّفَاقِ - Wa Bari’a minan Nifaq)
Keutamaan ini berkaitan dengan pembersihan batin dan penyucian diri dari sifat munafik. Sifat munafik adalah salah satu penyakit hati yang sangat berbahaya, yaitu menampilkan kebaikan di luar namun menyembunyikan keburukan atau ketidakpercayaan di dalam. Dengan rutin beribadah di Masjid Nabawi dan menjaga konsistensi salat berjamaah, seseorang dididik untuk tulus, jujur, dan ikhlas dalam beragama. Ini adalah bentuk penyucian spiritual yang sangat berharga, membuat pelakunya semakin dekat dengan kesempurnaan iman.
Makna Spiritual Arbain¶
Meskipun ada perdebatan di kalangan ulama mengenai derajat keabsahan (sahih/da’if) hadis spesifik tentang angka 40 dan jaminan pembebasan tersebut, tidak ada perbedaan pendapat bahwa salat di Masjid Nabawi memiliki pahala yang berlipat ganda. Satu rakaat salat di Masjid Nabawi nilainya sama dengan 1.000 rakaat salat di masjid lain, kecuali Masjidil Haram di Makkah yang 100.000 kali lipat.
Terlepas dari keabsahan hadis Arbain secara teknis, praktik ini mengajarkan kedisiplinan, kesabaran, dan kecintaan yang mendalam terhadap ibadah. Menghabiskan delapan hari di Masjid Nabawi, fokus hanya pada salat, zikir, membaca Al-Qur’an, dan merenung, adalah pengalaman spiritual yang tak ternilai.
- Kedisiplinan: Kamu harus bangun pagi, mengatur waktu, dan menunda urusan dunia demi salat tepat waktu berjamaah. Ini melatih disiplin diri yang kuat.
- Kekhusyukan: Berada di lingkungan yang penuh berkah, dikelilingi jutaan umat Muslim lain yang juga beribadah, serta dekat dengan makam Rasulullah SAW, menciptakan suasana khusyuk yang sulit didapatkan di tempat lain.
- Fokus pada Akhirat: Delapan hari itu terasa seperti jeda dari hiruk pikuk dunia, memungkinkanmu untuk sepenuhnya fokus pada hubunganmu dengan Allah dan persiapan untuk akhirat.
- Kebersamaan: Salat berjamaah dengan ribuan orang dari berbagai negara mengingatkanmu akan persaudaraan sesama Muslim (ukhuwah Islamiyah) yang sangat kuat.
Jadi, bahkan jika keutamaan spesifik yang disebut dalam hadis Arbain diperdebatkan, nilai ibadah konsisten di Masjid Nabawi selama delapan hari tetaplah sangat tinggi berdasarkan dalil-dalil umum tentang keutamaan beribadah di Dua Tanah Suci. Praktik Arbain ini menjadi simbol komitmen dan pengorbanan jemaah untuk memanfaatkan waktu mereka di Madinah semaksimal mungkin.
Kehidupan Sehari-hari Saat Melakukan Arbain¶
Melakukan Salat Arbain bukan sekadar datang ke masjid saat azan berkumandang. Ini adalah gaya hidup selama sekitar delapan hari. Pagi dimulai dengan bangun sebelum Subuh, bersiap, dan berjalan menuju masjid yang biasanya sudah ramai oleh jemaah dari berbagai negara. Setelah Subuh, banyak jemaah tidak langsung pulang, melainkan menunggu matahari terbit untuk salat Isyraq (terbitnya matahari sepenggalah).
Setelah itu, biasanya jemaah kembali ke penginapan untuk sarapan dan istirahat sejenak. Namun, pikiran dan hati tetap tertuju pada masjid. Menjelang waktu Zuhur, mereka sudah bersiap kembali ke masjid. Rutinitas ini berlanjut hingga salat Isya. Antar waktu salat, jemaah bisa mengisinya dengan membaca Al-Qur’an, berzikir, berdoa, mengunjungi Raudhah (jika memungkinkan dan sesuai prosedur), atau sekadar duduk merenung dan menikmati ketenangan Masjid Nabawi.
Contoh Jadwal Harian (estimasi):
| Waktu | Kegiatan Utama | Keterangan |
|---|---|---|
| Sebelum Subuh | Persiapan & Menuju Masjid | Berangkat lebih awal untuk dapat tempat di dalam |
| Subuh | Salat Berjamaah | Mengikuti takbiratul ihram imam |
| Setelah Subuh | Zikir & Tilawah Quran | Menunggu terbit matahari, salat Isyraq |
| Pagi | Sarapan & Istirahat | Kembali ke penginapan, istirahat sebentar |
| Menjelang Zuhur | Persiapan & Menuju Masjid | Kembali ke masjid |
| Zuhur | Salat Berjamaah | |
| Setelah Zuhur | Tilawah Quran, Zikir, Doa | Waktu luang di masjid |
| Menjelang Asar | Persiapan & Menuju Masjid | Kembali ke masjid |
| Asar | Salat Berjamaah | |
| Setelah Asar | Tilawah Quran, Zikir, Doa | |
| Menjelang Magrib | Persiapan & Menuju Masjid | Kembali ke masjid |
| Magrib | Salat Berjamaah | |
| Setelah Magrib | Zikir, Doa, Makan Malam? | Kadang makan malam ringan, kembali ke masjid cepat |
| Menjelang Isya | Persiapan & Menuju Masjid | Kembali ke masjid |
| Isya | Salat Berjamaah | |
| Setelah Isya | Zikir, Doa, Kembali | Pulang ke penginapan untuk istirahat |
Jadwal ini memerlukan komitmen tinggi. Kesehatan juga menjadi faktor penting. Jemaah perlu menjaga asupan makanan, cairan, dan istirahat yang cukup agar tetap fit selama delapan hari Arbain. Terutama bagi jemaah lansia, dukungan dari pendamping atau petugas sangat dibutuhkan.
Pentingnya Niat dan Keikhlasan¶
Pada akhirnya, inti dari Salat Arbain, sebagaimana ibadah lainnya dalam Islam, terletak pada niat dan keikhlasan. Melakukan 40 waktu salat berjamaah di Masjid Nabawi dengan niat tulus karena Allah SWT, mengharapkan ridha-Nya, dan mengikuti sunnah Rasulullah SAW adalah yang terpenting. Keutamaan yang dijanjikan adalah karunia dari Allah bagi hamba-Nya yang bersungguh-sungguh dalam beribadah.
Apakah kalau tidak menyelesaikan Arbain tidak dapat pahala? Tentu tidak begitu! Setiap salat berjamaah di Masjid Nabawi, bahkan satu waktu pun, sudah mendapatkan pahala 1.000 kali lipat dibanding masjid lain. Jadi, setiap langkah menuju masjid, setiap rakaat yang dikerjakan, setiap zikir yang terucap di sana, semuanya bernilai besar di sisi Allah. Arbain adalah target tambahan bagi yang mampu dan ingin meraih keutamaan ekstra, tapi jangan sampai membebani diri atau membuat putus asa jika tidak bisa menyelesaikannya karena kondisi tertentu.
Melakukan Salat Arbain adalah kesempatan langka dan berharga bagi jemaah haji gelombang pertama. Ini adalah kesempatan untuk memperkuat ikatan spiritual dengan Nabi Muhammad SAW, menghabiskan waktu berkualitas di salah satu tempat paling suci di muka bumi, dan melatih kedisiplinan dalam beribadah. Semoga setiap jemaah haji yang berkesempatan ke Madinah dapat meraih keutamaan ini dan pulang dengan hati yang lebih bersih serta iman yang lebih kuat.
Bagaimana menurutmu tentang Salat Arbain ini? Adakah pengalaman menarik terkait ibadah ini yang ingin kamu bagikan? Yuk, tulis di kolom komentar di bawah!
Posting Komentar