Belum Qadha Puasa, Boleh Puasa Arafah? Ini Hukumnya!
Bulan Dzulhijjah itu memang istimewa banget buat umat Islam. Banyak amalan sunnah yang dianjurkan, salah satunya yang paling ditunggu-tunggu adalah puasa Arafah di tanggal 9 Dzulhijjah. Pahala puasa ini besar banget, konon bisa menghapus dosa setahun lalu dan setahun yang akan datang. Makanya, banyak umat Islam yang nggak mau ketinggalan kesempatan emas ini.
Tapi, seringkali di bulan Dzulhijjah ini, masih ada aja di antara kita yang punya ‘PR’ atau utang puasa Ramadhan yang belum diganti atau diqadha. Nah, ini nih yang bikin bingung. Boleh nggak ya kita ikut puasa Arafah padahal qadha Ramadhan belum kelar? Terus, kalau pas puasa Arafah itu jatuh di hari Kamis, boleh nggak niatnya digabung sama puasa Kamis? Yuk, kita bahas tuntas biar nggak salah langkah!
Boleh Nggak Sih Puasa Arafah Kalau Belum Qadha Ramadhan?¶
Pertanyaan ini emang jadi langganan tiap mau masuk tanggal 9 Dzulhijjah. Ada dilema antara ngejar pahala sunnah yang istimewa atau nyelesaiin kewajiban qadha yang memang harus ditunaikan. Gimana sih pandangan hukum Islam soal ini?
Menurut beberapa pandangan ulama, utang puasa Ramadhan itu sifatnya wajib dan harus segera diganti atau diqadha. Apalagi kalau nggak ada alasan syar’i yang bikin kita menunda-nunda qadha. Saking wajibnya, bahkan ada pandangan yang bilang kalau sengaja puasa sunnah padahal masih punya utang puasa wajib, itu hukumnya bisa nggak dibenarkan atau bahkan jatuh ke hukum haram. Prioritas itu ada pada yang wajib dulu. Jadi, logikanya, selesaikan dulu yang wajib baru ngejar yang sunnah. Ini kayak ngerjain tugas sekolah yang utama dulu sebelum main.
Namun, ada juga pandangan lain yang lebih memberikan kelonggaran dan kemudahan, terutama dari kalangan ulama yang dijelaskan di NU Online. Pandangan ini bilang kalau orang yang masih punya tanggungan puasa Ramadhan itu justru dianjurkan banget buat mengqadha puasanya di hari-hari utama, termasuk hari Tarwiyah (8 Dzulhijjah) dan hari Arafah (9 Dzulhijjah).
Lho, kok bisa gitu? Jadi, meskipun niat utamanya adalah mengqadha puasa Ramadhan yang wajib, karena qadha itu dilakukan di hari yang punya keutamaan puasa sunnah (yaitu hari Arafah), orang tersebut tetap bisa dapetin pahala atau keutamaan hari Arafah tersebut. Ini menunjukkan betapa luasnya rahmat dan kemurahan Allah SWT. Kamu ngerjain yang wajib, eh dapet bonus pahala sunnah karena dilakukan di waktu yang tepat.
Intinya, ada dua pandangan utama:
1. Utamakan qadha Ramadhan dulu, puasa sunnah ditunda kalau belum selesai. Beberapa pandangan bahkan menganggap nggak boleh puasa sunnah kalau masih punya utang wajib.
2. Qadha Ramadhan di hari Arafah itu sangat dianjurkan, dan orang yang qadha di hari itu tetap bisa mendapatkan keutamaan puasa Arafah meskipun niatnya bukan untuk puasa sunnah Arafah.
Jadi, buat amannya dan sesuai dengan pandangan yang kuat tentang kewajiban, ada baiknya kalau kita punya utang puasa Ramadhan, selesaikan dulu secepatnya sebelum masuk hari Arafah. Tapi, kalau memang mepet atau baru sempat, mengqadha di hari Arafah itu pilihan yang bagus karena tetap bisa meraih keutamaan hari tersebut. Jangan sampai niat ngejar sunnah malah bikin kewajiban jadi terbengkalai.
Niatnya Digabung Arafah Sekaligus Qadha Ramadhan, Gimana?¶
Nah, kalau kita pilih opsi mengqadha puasa di hari Arafah, muncul pertanyaan lagi. Boleh nggak sih niatnya digabung? Jadi, dalam satu kali puasa di hari Arafah itu, kita niatkan sekaligus untuk qadha Ramadhan dan puasa sunnah Arafah? Ini biar dapet dua-duanya gitu.
Soal menggabung niat puasa qadha dengan puasa sunnah ini, memang ada perbedaan pendapat di kalangan ulama. Sebagian ulama membolehkan penggabungan niat antara puasa wajib (qadha Ramadhan) dengan puasa sunnah (seperti puasa Arafah). Alasan mereka biasanya karena ini memberikan kemudahan bagi umat Islam, apalagi kalau waktunya terbatas atau kondisi tertentu yang bikin susah puasa dua kali. Mereka berpandangan bahwa satu amalan bisa mencakup dua niat, asalkan amalan utamanya (puasa) sah.
Namun, sebagian ulama lain berpendapat bahwa kalau mau dapetin pahala puasa sunnah Arafah secara maksimal dan sempurna, sebaiknya puasa Arafah itu diniatkan khusus untuk puasa sunnah Arafah. Puasa qadha Ramadhan diniatkan terpisah di hari lain. Menggabungkan niat puasa wajib dan sunnah dalam satu puasa dianggap kurang sempurna dalam meraih fadhilah atau keutamaan puasa sunnah itu sendiri. Ini seperti mengerjakan dua pekerjaan yang berbeda, kalau dikerjakan satu per satu dengan fokus, hasilnya bisa lebih maksimal.
Tapi, kembali lagi ke pandangan yang lebih moderat yang tadi kita bahas, seperti yang dijelaskan di NU Online. Mengqadha puasa Ramadhan di hari Arafah itu sendiri sudah bisa mendatangkan pahala atau keutamaan hari Arafah, meskipun niatnya hanya untuk qadha Ramadhan. Jadi, meskipun nggak menggabung niat, tapi karena puasa qadhanya dilakukan di hari yang mulia, Allah tetap memberikan bonus pahala hari itu. Ini menunjukkan bahwa niat tulus menunaikan kewajiban di waktu yang istimewa itu sangat dihargai.
Jadi, kalau kamu mau aman dan mengikuti pandangan yang nggak menggabung niat untuk kesempurnaan pahala sunnah Arafah, sebaiknya qadha Ramadhan diselesaikan sebelum hari Arafah. Tapi kalau memang belum selesai dan terpaksa mengqadha di hari Arafah, niatkan saja qadha Ramadhan. Insya Allah tetap dapat keutamaan hari Arafah. Kalaupun kamu ikut pandangan yang membolehkan menggabung niat, sebagian ulama memperbolehkannya sebagai bentuk kemudahan. Namun, banyak yang menyarankan agar yang wajib tetap diniatkan utamanya.
Nah, Kalau Gabung Niat Puasa Arafah Sama Puasa Kamis (Kalau Pas Barengan)?¶
Ini nih yang seru. Kadang, hari Arafah itu kebetulan jatuh di hari Senin atau Kamis, hari-hari yang juga disunnahkan untuk berpuasa. Nah, kalau gini, boleh nggak niat puasa Arafah dan puasa Senin/Kamis digabung?
Menurut Ustaz Farid Nu’man dalam bukunya Fikih Praktis Sehari-hari, menggabung dua niat puasa sunnah dalam satu hari itu diperbolehkan oleh mayoritas ulama. Beliau mengutip analogi menarik dari hadits Nabi Muhammad SAW tentang sedekah:
“Bersedekah kepada orang miskin adalah sedekah, dan kepada kerabat adalah dua keutamaan: sedekah dan silaturahmi.” (HR. Tirmidzi)
Dari hadits ini, para ulama menyimpulkan bahwa satu perbuatan baik bisa mengandung dua atau lebih nilai kebaikan atau tujuan. Contoh lainnya adalah shalat sunnah Tahiyatul Masjid yang bisa digabung niatnya dengan shalat sunnah Qabliyah (shalat sunnah sebelum shalat fardhu). Jika masuk masjid lalu langsung shalat Qabliyah atau shalat fardhu, sudah otomatis gugur kewajiban (sunnah) Tahiyatul Masjid karena intinya adalah shalat sebelum duduk di masjid.
Analogi ini diterapkan pada puasa sunnah. Kalau hari Arafah kebetulan jatuh di hari Kamis, kita bisa niatkan puasa itu sekaligus untuk puasa Arafah dan puasa Kamis. Keduanya sah dan insya Allah mendapatkan pahala keduanya.
Pandangan ini juga diperkuat oleh penjelasan ulama lain seperti Al-Allamah As-Sayyid Al-Bakri dalam kitab I’anatut Thalibin. Beliau menyatakan bahwa jika seseorang berpuasa dengan dua niat sunnah sekaligus, maka kedua niat itu sah. Senada dengan itu, Ali Musthafa Siregar dalam bukunya Fikih Puasa juga menyebutkan bahwa menggabungkan dua puasa sunnah atau lebih dalam satu hari itu diperbolehkan. Misalnya, puasa Arafah digabung dengan puasa Senin atau Kamis kalau harinya bertepatan.
Jadi, kalau hari Arafah jatuh di hari Senin atau Kamis, nggak usah bingung. Kamu bisa niatkan puasa itu untuk puasa Arafah sekaligus puasa Senin/Kamis. Insya Allah pahala keduanya kamu dapatkan. Ini adalah bentuk kemudahan dalam beribadah yang diberikan oleh syariat Islam.
Semoga penjelasan ini bikin kamu makin mantap dan nggak ragu lagi ya dalam menjalankan ibadah puasa di bulan Dzulhijjah, khususnya puasa Arafah. Yang penting niatnya tulus karena Allah dan berusaha menunaikan kewajiban dulu sebelum memperbanyak yang sunnah, tapi kalau ada kesempatan menggabung kebaikan, kenapa tidak?
Gimana, ada yang punya pengalaman atau pertanyaan lain soal ini? Atau mungkin punya pandangan yang berbeda? Yuk, sharing di kolom komentar biar kita sama-sama belajar!
Posting Komentar