Lagi Burnout? 7 Film Netflix Ini Siap Menemani dan Peduli Kesehatan Mentalmu!

Table of Contents

Kehidupan modern seringkali datang dengan tantangan yang bikin kita merasa lelah, cemas, atau bahkan burnout. Beruntungnya, seni, termasuk film, bisa jadi salah satu cara untuk rehat sejenak, merenung, atau bahkan merasa tidak sendirian. Netflix, platform streaming favorit banyak orang, punya beberapa film Indonesia yang mengangkat isu kesehatan mental dengan apik. Pas banget buat kamu yang lagi butuh ‘teman’ atau sekadar pemahaman lebih soal diri sendiri dan orang lain.

Baru-baru ini, Netflix mengumumkan akan merilis film Indonesia terbaru tentang kesehatan mental berjudul A Normal Woman. Film garapan Lucky Kuswandi ini dibintangi oleh Marissa Anita dan rencananya tayang perdana pada 24 Juli 2025. Ini menunjukkan bahwa semakin banyak sineas Indonesia yang berani membahas topik penting ini.

Selain A Normal Woman yang patut ditunggu, ada beberapa film Indonesia lainnya di Netflix yang juga menyentuh hati dan pikiran tentang kesehatan mental. Yuk, kita intip daftarnya!

27 Steps of May (2018)

Film ini adalah potret pilu sekaligus kuat tentang trauma dan proses penyembuhan. 27 Steps of May mengisahkan May, seorang gadis remaja yang hidupnya berubah drastis setelah mengalami kekerasan seksual. Peristiwa traumatis itu membuatnya menarik diri sepenuhnya dari dunia luar, mengunci diri di dalam kamar, dan berkomunikasi hanya melalui gerakan tangan atau tatapan mata.

Ayahnya, yang diperankan dengan brilian, berusaha keras melindungi May, namun ia juga bergulat dengan rasa bersalah dan ketidakberdayaan. May terperangkap dalam kesendirian yang dalam, berjuang setiap hari melawan bayangan masa lalu yang menghantuinya. Titik balik dalam hidup May datang ketika ia secara tak sengaja bertemu dengan seorang petinju, yang ironisnya, juga menyimpan luka batinnya sendiri. Pertemuan ini perlahan membuka celah di dinding yang dibangun May di sekeliling hatinya. Melalui interaksi ini, May mulai menemukan kekuatan kecil untuk melangkah, untuk membuka pintu kamarnya kembali, dan akhirnya, menghadapi masa lalunya yang kelam.

Raihaanun memerankan sosok May dengan sangat mendalam, menampilkan spektrum emosi yang rumit dari seorang penyintas trauma. Film ini tidak hanya menampilkan rasa sakit, tetapi juga menampilkan secercah harapan dan kekuatan resilient manusia untuk bangkit.

Budi Pekerti (2023)

Budi Pekerti adalah film yang sangat relevan dengan era digital saat ini, di mana media sosial bisa menjadi pedang bermata dua. Film ini berlatar di Yogyakarta dan berpusat pada karakter Prani, seorang guru Bimbingan Konseling (BK) yang dihormati. Kehidupan tenang Prani tiba-tiba jungkir balik ketika video singkat yang merekam perselisihannya di pasar menjadi viral di internet.

Insiden sepele tersebut diedit dan disebar tanpa konteks penuh, memicu badai hujatan daring dan perundungan siber yang tak terkendali. Reputasi Prani hancur dalam semalam, kariernya terancam, dan ia harus menghadapi penilaian brutal dari masyarakat luas hanya berdasarkan cuplikan video. Keluarganya, terutama kedua anaknya, ikut terseret dalam kekacauan ini. Mereka berjuang mati-matian untuk membela Prani, mencoba membersihkan namanya dari tuduhan dan prasangka yang belum tentu benar.

Film ini dengan tajam menggambarkan dampak buruk budaya cancel culture dan perundungan siber terhadap kesehatan mental seseorang. Ine Febriyanti berhasil menghidupkan karakter Bu Prani dengan segala kerentanan dan kekuatannya menghadapi tekanan sosial yang masif. Budi Pekerti mengajak kita merenung tentang pentingnya verifikasi, empati, dan bahaya menghakimi orang lain di ruang digital.

Kembang Api (2023)

Film Kembang Api menawarkan premis yang unik dan provokatif, menyoroti isu sensitif tentang keinginan untuk mengakhiri hidup. Ceritanya mengikuti empat individu dari latar belakang berbeda – salah satunya masih remaja – yang bertemu di sebuah ruangan. Mereka semua memiliki satu niat yang sama: mengakhiri penderitaan mereka dengan cara bunuh diri bersama.

Namun, apa yang terjadi selanjutnya di luar dugaan. Setiap kali mereka mencoba melakukan tindakan fatal tersebut, waktu justru kembali ke momen sebelum percobaan dilakukan. Mereka seperti terjebak dalam putaran waktu yang aneh, dipaksa untuk terus menerus mengulang detik-detik genting sebelum kematian. Fenomena misterius ini, alih-alih membebaskan, justru memaksa mereka untuk berinteraksi satu sama lain.

Dalam kebingungan dan keputusasaan yang berulang, keempat karakter ini mulai perlahan mengungkap alasan terdalam di balik keinginan mereka untuk mengakhiri hidup. Setiap putaran waktu membuka lapisan baru dari trauma, kekecewaan, dan beban hidup yang mereka pikul. Film ini adalah drama psikologis yang intens, mengajak penonton untuk memahami kompleksitas pikiran seseorang yang berada di titik terendah dan pentingnya percakapan serta dukungan.

Orang-orang berkumpul di ruangan melingkar

Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini (NKCTHI) (2020)

Diadaptasi dari novel laris karya Marchella FP, Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini (NKCTHI) adalah film drama keluarga yang menyentuh isu kesehatan mental melalui dinamika hubungan antaranggota keluarga. Film ini berfokus pada tiga bersaudara: Angkasa, Aurora, dan Awan, yang tumbuh dalam keluarga yang terlihat harmonis. Namun, di balik fasad tersebut, tersimpan rahasia dan trauma masa lalu yang mempengaruhi kepribadian dan hubungan mereka di masa dewasa.

Awan, si bungsu yang periang, mulai merasakan adanya ketidakberesan dalam keluarga ketika ia dihadapkan pada kenyataan pahit dan aturan-aturan yang terasa mengekang. Pencariannya untuk memahami diri sendiri dan keluarganya membawanya pada penemuan-penemuan yang mengubah pandangannya tentang orang tua dan kakak-kakaknya. Film ini menggambarkan bagaimana ekspektasi orang tua, trauma yang tidak diungkap, dan komunikasi yang buruk dapat menciptakan luka batin dan memengaruhi cara seseorang menghadapi hidup.

NKCTHI dengan lembut menampilkan perjuangan karakter-karakternya menghadapi kecemasan, tekanan, dan kebutuhan untuk diterima apa adanya. Film ini menekankan pentingnya berbicara, memahami akar masalah dalam keluarga, dan proses penyembuhan yang tidak selalu mudah tetapi sangat mungkin terjadi. Akting para pemainnya seperti Rio Dewanto, Rachel Amanda, dan Sheila Dara Aisha terasa sangat relatable dalam memerankan dinamika kakak-adik.

Dua Garis Biru (2019)

Meskipun seringkali dikategorikan sebagai film drama remaja tentang kehamilan di luar nikah, Dua Garis Biru juga menyentuh aspek kesehatan mental yang signifikan. Film ini menceritakan kisah Bima dan Dara, dua remaja SMA yang harus menghadapi konsekuensi besar dari hubungan mereka. Kehamilan yang tidak direncanakan ini seketika menghancurkan impian masa depan mereka dan memaksa mereka menghadapi stigma sosial, kekecewaan keluarga, serta tekanan mental yang luar biasa.

Film ini dengan jujur menggambarkan bagaimana Bima dan Dara, yang masih sangat muda, harus berjuang mengatasi rasa takut, malu, kebingungan, dan kesiapan (atau ketidaksiapan) mental untuk menjadi orang tua. Mereka dihadapkan pada pilihan-pilihan sulit dan realitas yang jauh dari bayangan mereka. Tekanan dari keluarga, teman, dan masyarakat luas memberikan beban psikologis yang berat, yang dapat memicu kecemasan, depresi, dan perasaan terisolasi.

Dua Garis Biru juga menunjukkan pentingnya sistem pendukung, meskipun tidak semua respons dari lingkungan sekitar bersifat positif. Film ini mengajak penonton untuk berempati pada posisi remaja dalam situasi sulit seperti ini dan merenungkan bagaimana tekanan sosial dapat memengaruhi kesehatan mental seseorang, serta pentingnya pendidikan kesehatan reproduksi yang komprehensif. Prilly Latuconsina dan Angga Yunanda berhasil membawakan peran mereka dengan penuh penghayatan.

Penyalin Cahaya (Photocopier) (2021)

Penyalin Cahaya adalah film thriller misteri yang kuat dan berani mengangkat isu kekerasan seksual dan dampak psikologisnya yang mendalam. Film ini berpusat pada Suryani, seorang mahasiswi yang kehilangan beasiswanya setelah foto selfie-nya dalam keadaan mabuk beredar luas di internet. Suryani yakin ia dijebak dan malam itu ia sama sekali tidak minum alkohol. Untuk membuktikan bahwa ia adalah korban, Suryani dibantu oleh Amin, teman masa kecilnya yang bekerja di tempat fotokopi kampusnya, mulai menyelidiki apa yang sebenarnya terjadi pada malam tersebut.

Dalam proses penyelidikan mereka, Suryani dan Amin mengungkap jaringan pelecehan dan kekerasan seksual yang melibatkan orang-orang terdekat di lingkungan kampus. Film ini dengan gamblang menampilkan trauma yang dialami oleh penyintas kekerasan seksual, perasaan tidak berdaya, rasa bersalah yang seringkali ditimpakan pada korban, serta kesulitan dalam mencari keadilan. Dampak psikologis trauma tersebut terhadap Suryani dan korban-korban lainnya digambarkan dengan sangat realistis.

Penyalin Cahaya bukan hanya film tentang kejahatan, tetapi juga tentang perjuangan seorang perempuan untuk mendapatkan kembali suaranya, harga dirinya, dan memulai proses penyembuhan dari luka yang tak terlihat. Film ini menjadi pengingat penting tentang pentingnya mendukung penyintas, melawan budaya menyalahkan korban, dan menciptakan lingkungan yang aman dari kekerasan seksual.

A Normal Woman (Segera Tayang di 2025)

Seperti disebutkan di awal, A Normal Woman akan menjadi tambahan terbaru dalam daftar film Indonesia di Netflix yang berfokus pada kesehatan mental. Meskipun detail plotnya belum banyak dirilis, judul dan premisnya yang dibintangi oleh aktris sekaliber Marissa Anita dan disutradarai oleh Lucky Kuswandi menjanjikan eksplorasi mendalam tentang perjuangan seorang individu dalam menjalani kehidupan ‘normal’ di tengah tantangan batin.

Kehadiran film ini menandakan tren positif dalam perfilman Indonesia yang semakin terbuka dan peduli terhadap isu kesehatan mental. Ini adalah kesempatan baik bagi penonton untuk mendapatkan pemahaman baru, merasakan validasi atas pengalaman mereka, atau sekadar melihat bahwa berjuang dengan kesehatan mental adalah bagian dari pengalaman manusia yang umum, bukan sesuatu yang harus disembunyikan atau dimalukan. Kita tunggu saja bagaimana A Normal Woman akan membawakan ceritanya dan pesan apa yang ingin disampaikan.

Kenapa Menonton Film Ini Bisa Membantu?

Menonton film-film seperti ini bisa memberikan beberapa manfaat terkait kesehatan mental:

  1. Validasi dan Merasa Tidak Sendirian: Melihat karakter di layar mengalami hal serupa dengan apa yang kita rasakan bisa sangat melegakan. Ini membuat kita merasa bahwa perjuangan kita valid dan kita bukan satu-satunya yang mengalami hal tersebut.
  2. Meningkatkan Empati dan Pemahaman: Film membantu kita masuk ke dalam sudut pandang karakter, merasakan apa yang mereka rasakan, dan memahami alasan di balik perilaku mereka. Ini meningkatkan empati kita terhadap orang lain, termasuk mereka yang mungkin berjuang dengan isu kesehatan mental.
  3. Memicu Percakapan: Film bisa menjadi pembuka percakapan yang sulit tentang topik-topik sensitif seperti trauma, depresi, atau kecemasan. Diskusi setelah menonton bisa membantu memproses perasaan dan pikiran kita.
  4. Edukasi: Beberapa film, meskipun fiksi, bisa memberikan gambaran tentang gejala, tantangan, dan terkadang proses penyembuhan terkait isu kesehatan mental tertentu.
  5. Sarana Katarsis: Terkadang, menangis atau merasakan emosi kuat saat menonton film bisa menjadi cara sehat untuk melepaskan ketegangan batin.

Penting untuk diingat, film hanyalah salah satu alat bantu dan bukan pengganti dukungan profesional. Jika kamu merasa sedang berjuang dengan isu kesehatan mental yang serius, jangan ragu untuk mencari bantuan dari psikolog, psikiater, atau konselor.

Film sebagai Cermin Masyarakat

Film-film Indonesia yang mengangkat tema kesehatan mental juga seringkali menjadi cermin dari kondisi sosial dan budaya di Indonesia. Budi Pekerti misalnya, sangat merefleksikan bagaimana tekanan sosial dan budaya cancel culture bisa berdampak buruk. 27 Steps of May dan Penyalin Cahaya menyoroti isu kekerasan berbasis gender yang sayangnya masih marak. NKCTHI menggambarkan dinamika keluarga Indonesia yang kompleks, termasuk harapan orang tua yang kadang bisa menjadi beban. Sementara Dua Garis Biru membuka diskusi tentang seksualitas remaja dan dampaknya dalam konteks sosial Indonesia.

Melihat isu-isu ini ditampilkan di layar lebar dan bisa diakses luas melalui platform seperti Netflix adalah langkah maju dalam meningkatkan kesadaran masyarakat. Ini membantu mendobrak stigma yang masih melekat kuat pada kesehatan mental, membuat topik ini lebih bisa dibicarakan, dan diharapkan bisa mendorong perubahan positif dalam cara masyarakat memandang dan menangani isu ini.

Pentingnya Menonton dengan Sadar

Ketika menonton film dengan tema yang berat seperti ini, ada baiknya kamu juga memperhatikan kondisi dirimu sendiri. Siapkan diri secara mental, pilih waktu yang tepat saat kamu merasa cukup kuat untuk menghadapi emosi yang mungkin muncul. Setelah menonton, beri dirimu waktu untuk memproses apa yang kamu lihat dan rasakan. Jangan ragu untuk berbicara dengan teman, keluarga, atau bahkan menuliskannya dalam jurnal jika kamu merasa perlu.

Membuat ruang yang aman untuk menonton, seperti di rumah sendiri, bisa membantu. Siapkan camilan atau minuman hangat, dan pastikan kamu tidak akan terganggu. Ingat, tujuan menonton film-film ini adalah untuk mendapatkan pemahaman dan mungkin merasa terhubung, bukan untuk menambah beban pikiranmu.

Trailer untuk Intipan Pertama

Beberapa film ini mungkin punya trailer resmi yang bisa kamu tonton untuk mendapatkan gambaran awal. Mencari trailer di YouTube dengan judul filmnya bisa jadi cara yang bagus sebelum memutuskan mana yang ingin kamu tonton duluan. Menonton trailernya bisa memberimu gambaran gaya penceritaan dan apakah temanya cocok dengan apa yang sedang kamu butuhkan atau ingin ketahui saat ini.

Misalnya, kamu bisa coba cari “Trailer Film 27 Steps of May”, “Trailer Film Budi Pekerti Official”, “Trailer Film Kembang Api”, “Trailer Film Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini”, “Trailer Film Dua Garis Biru”, atau “Trailer Film Penyalin Cahaya”. Menonton trailer seringkali membantu menyiapkan diri secara emosional untuk film yang akan ditonton.

Close up mata seseorang yang sedang berpikir

Semoga daftar film ini bisa memberimu opsi tontonan yang bukan sekadar hiburan, tetapi juga memberikan makna dan dukungan di saat-saat sulit. Merawat kesehatan mental itu penting, dan terkadang, sebuah cerita yang kuat bisa menjadi pengingat bahwa kamu tidak sendirian dalam perjalanan ini.

Sudah nonton film-film di atas? Mana yang paling membekas buat kamu? Atau ada film Indonesia lain di Netflix yang menurutmu relate banget sama isu kesehatan mental? Ceritain pengalaman atau rekomendasimu di kolom komentar, yuk!

Posting Komentar