Puasa Dzulhijjah Hari ke-4: Niatnya Gimana? Plus, Bisa Digabung Qadha?
Puasa itu salah satu ibadah yang punya tempat istimewa dalam Islam. Selain jadi kewajiban di bulan Ramadhan, ada juga nih puasa-puasa sunnah yang pahalanya luar biasa besar. Nah, salah satu waktu terbaik buat nambah pahala puasa sunnah itu di bulan Dzulhijjah, khususnya di sepuluh hari pertamanya. Kenapa? Soalnya di hari-hari ini, semua amal ibadah kita dilipatgandakan pahalanya, masya Allah!
Nah, kebetulan banget, hari ini tuh Sabtu, 23 Mei 2025, yang jatuh sebagai hari ke-4 puasa Dzulhijjah 2025. Ini kesempatan emas buat kita meraih pahala di waktu yang mulia ini. Pasti banyak nih di antara kita yang nggak mau ketinggalan momen istimewa ini.
Di sisi lain, nggak bisa dipungkiri, masih banyak juga saudara seiman kita yang punya utang puasa Ramadhan tahun lalu. Utang puasa ini wajib banget diganti atau diqadha karena hukumnya fardhu alias wajib. Penyebab utang puasa Ramadhan ini macem-macem, bisa karena sakit, karena haid buat para muslimah, atau sebab-sebab lain yang dibolehkan syariat.
Jadi, ada nih kondisi di mana seseorang pengen banget puasa sunnah Dzulhijjah buat ngejar keutamaan pahalanya, tapi di saat yang sama dia masih punya kewajiban qadha puasa Ramadhan yang belum lunas. Pasti muncul pertanyaan, “Bisa nggak ya utang puasa Ramadhan ini digabung aja niatnya sama puasa sunnah Dzulhijjah? Biar sekali puasa dapat dua keutamaan?”
Pertanyaan ini wajar banget muncul. Mengingat fardhu itu hukumnya wajib dikerjakan, sementara sunnah itu anjuran yang berpahala. Menggabungkan niat fardhu dengan sunnah memang seringkali jadi topik diskusi di kalangan ulama. Nah, gimana nih hukumnya dalam Islam? Apakah niat puasa Dzulhijjah bisa digabung dengan qadha puasa Ramadhan? Mari kita simak penjelasannya biar makin mantap ibadahnya!
Menggabungkan Niat Puasa: Boleh Nggak Sih?¶
Soal menggabungkan niat ibadah, terutama antara fardhu dan sunnah, ini memang ada penjelasannya dari para ulama. Secara umum, ada perbedaan pendapat dalam beberapa kasus. Namun, khusus untuk puasa sunnah yang waktunya bertepatan dengan kewajiban qadha, mayoritas ulama punya pandangan yang mempermudah.
Seperti penjelasan yang disampaikan oleh Alhafiz Kurniawan, Wakil Sekretaris Lembaga Bahtsul Masail Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LBM PBNU), orang yang menjalankan puasa qadha di hari-hari yang sangat dianjurkan untuk berpuasa sunnah, itu nggak cuma gugur utang puasanya, tapi juga bisa dapet keutamaan puasa sunnah hari itu. Ini kabar baik banget kan?
Bayangin, kita lagi ngejar utang puasa Ramadhan, eh ternyata pas hari itu jatuh di hari-hari emas Dzulhijjah. Dengan niat qadha di hari itu, insya Allah kita juga dapat pahala puasa sunnah Dzulhijjahnya. Pandangan ini, menurut Alhafiz Kurniawan, disepakati oleh beberapa ulama besar seperti Al-Ushfuwani, Al-Faqih Abdullah An-Nasyiri, dan Al-Faqih Ali bin Ibrahim bin Shalih Al-Hadhrami. Mereka menganggap pandangan ini sebagai pendapat yang mu’tamad atau yang dipegang kuat keabsahannya.
Ini menunjukkan betapa luasnya rahmat Allah dan kemudahan dalam syariat Islam. Saat sebuah ibadah wajib (qadha puasa) bertepatan dengan waktu yang dianjurkan untuk ibadah sunnah (puasa Dzulhijjah), niat untuk melaksanakan ibadah wajib saja sudah bisa mengantarkan kita pada pahala ibadah sunnah tersebut, apalagi jika niatnya memang digabung.
Dasar Argumentasi Ulama¶
Penjelasan ulama yang membolehkan penggabungan niat ini punya landasan. Salah satunya dijelaskan dalam kitab I’anatut Thalibin. Disebutkan bahwa dalam kitab-kitab lain seperti Asnal Mathalib oleh Al-Khatib As-Syarbini, dan juga pendapat Syekh Sulaiman Al-Jamal serta Syekh Ar-Ramli, puasa sunnah pada hari-hari tertentu yang sangat dianjurkan memang punya kekhususan waktu.
Tapi, meskipun niat utamanya bukan puasa sunnah, orang yang berpuasa di hari-hari tersebut dengan niat lain (misalnya qadha atau nazar), dia tetap bisa mendapatkan keutamaan puasa sunnahnya. Bahkan, dalam Kitab Al-I’ab disebutkan, seandainya seseorang berpuasa di hari sunnah itu hanya dengan niat qadha saja, dia tetap bisa mendapatkan kedua keutamaan tersebut, baik dia meniatkan keduanya secara eksplisit atau tidak. Ini menunjukkan bahwa berkah dan keutamaan hari-hari mulia itu bisa “menyelimuti” ibadah wajib yang kita lakukan di dalamnya.
Jadi, kalau kamu punya utang puasa dan hari ini (atau hari-hari lain di sepuluh hari pertama Dzulhijjah) kamu mau mengqadha, go ahead! Insya Allah utangmu lunas dan kamu juga kecipratan pahala puasa sunnah Dzulhijjah yang melimpah.
Mana yang Lebih Baik: Digabung atau Dipisah?¶
Meskipun menggabungkan niat itu sah dan berpahala ganda, sebagian ulama tetap menyarankan agar sebisa mungkin melunasi utang puasa Ramadhan terlebih dahulu. Kenapa? Karena qadha puasa itu hukumnya wajib, sementara puasa Dzulhijjah itu sunnah. Melaksanakan kewajiban itu prioritas.
Namun, saran untuk mendahulukan qadha ini bersifat ideal. Artinya, kalau memang memungkinkan dan waktunya masih panjang untuk melunasi utang qadha setelah Dzulhijjah, mungkin lebih baik puasa Dzulhijjah dengan niat sunnah murni untuk meraih keutamaan penuhnya, dan qadha dilakukan di luar sepuluh hari Dzulhijjah.
Tapi, seringkali kondisi nggak seideal itu. Apalagi kalau utang puasa Ramadhan kita masih banyak, sementara sepuluh hari Dzulhijjah adalah momen yang sangat sayang kalau dilewatkan keutamaan puasanya. Nah, dalam kondisi seperti ini, menggabungkan niat itu jadi solusi yang sangat membantu. Apalagi jika utang puasa itu baru teringat atau baru bisa dibayar menjelang hari Arafah (hari ke-9 Dzulhijjah), maka sangat disarankan untuk mengqadha puasa di hari Arafah tersebut agar mendapatkan keutamaan hari Arafah yang luar biasa (menghapus dosa setahun lalu dan setahun yang akan datang).
Intinya, menggabungkan niat itu sah dan berpahala ganda. Ini adalah kemudahan dari Allah SWT. Namun, kalau kamu punya flexibility waktu, melunasi kewajiban (qadha) secara terpisah lalu menjalankan sunnah bisa jadi lebih utama secara hirarki ibadah. Tapi jangan sampai menunda qadha terlalu lama ya, karena kewajiban harus segera ditunaikan.
Keutamaan 10 Hari Pertama Dzulhijjah¶
Kenapa sih sepuluh hari pertama Dzulhijjah itu spesial banget? Ini bukan sembarang hari lho dalam kalender Islam. Nabi Muhammad SAW sendiri yang menekankan keutamaannya.
Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, Nabi SAW bersabda:
“Tidak ada hari-hari di mana amal saleh di dalamnya lebih dicintai oleh Allah daripada hari-hari ini (yaitu sepuluh hari pertama Dzulhijjah).” Para sahabat bertanya, “Tidak juga jihad di jalan Allah?” Beliau menjawab, “Tidak juga jihad di jalan Allah, kecuali seseorang yang keluar (berjihad) dengan jiwa dan hartanya, kemudian tidak kembali sedikit pun dari keduanya.”
Hadis ini menunjukkan betapa luar biasanya nilai amal ibadah, termasuk puasa, di sepuluh hari awal Dzulhijjah. Bahkan saking utamanya, nilainya bisa melebihi jihad fi sabilillah, kecuali jihad yang mencapai tingkatan syahid total. Ini artinya, kesempatan beramal di hari-hari ini adalah kesempatan emas yang sangat langka dan berharga.
Puasa di hari-hari ini termasuk amal saleh yang sangat ditekankan. Terutama puasa di hari ke-9, yaitu hari Arafah, yang punya keutamaan spesifik untuk menghapus dosa. Tapi puasa dari hari pertama sampai hari kesembilan Dzulhijjah secara umum juga sangat dianjurkan dan termasuk dalam kategori amal saleh yang paling dicintai Allah di waktu ini.
Niat Puasa: Digabung, Qadha Saja, atau Sunnah Saja?¶
Setelah tahu boleh digabung, sekarang kita perlu tahu lafal niatnya dong. Niat itu kan letaknya di hati, tapi mengucapkan lafal niat dalam bahasa Arab (atau bahasa apapun yang kita mengerti) itu dianjurkan untuk memantapkan hati. Yang penting, niat itu hadir di dalam hati saat kita hendak berpuasa, ideally di malam hari sebelum puasa.
Berikut adalah lafal niat untuk berbagai kondisi puasa di bulan Dzulhijjah:
Niat Menggabungkan Qadha Puasa Ramadhan dan Puasa Sunnah Dzulhijjah¶
Ini niat yang bisa kamu gunakan kalau mau dapat dua keutamaan sekaligus. Niat ini diucapkan di malam hari sebelum berpuasa.
Lafal Arab:
نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ قَضَاءِ فَرْضِ شَهْرِ رَمَضَانَ وَسُنَّةِ شَهْرِ ذُو الْحِجَّةِ لِلَّهِ تَعَالَى
Transliterasi:
Nawaitu shauma ghadin ‘an qadhā’i fardhi syahri Ramadhāna wa sunnati syahri Dzil Hijjah lillāhi ta’ālā.
Artinya:
“Saya berniat puasa besok untuk mengqadha kewajiban puasa di bulan Ramadhan dan (menjalankan) sunnah puasa di bulan Dzulhijjah karena Allah Ta’ala.”
Lafal niat ini jelas menyebutkan dua maksud: mengqadha fardhu Ramadhan dan puasa sunnah Dzulhijjah. Dengan niat ini, insya Allah kamu mendapatkan keutamaan keduanya.
Niat Qadha Puasa Ramadhan Saja¶
Kalau kamu hanya berniat mengqadha puasa Ramadhan di hari Dzulhijjah tanpa secara eksplisit menyebut sunnah Dzulhijjah, menurut pendapat yang mu’tamad tadi, kamu tetap bisa mendapatkan keutamaan puasa sunnahnya. Tapi, niat utamanya adalah melunasi kewajiban qadha.
Lafal Arab:
نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ قَضَاءِ فَرْضِ رَمَضَانَ لِلَّهِ تَعَالَى
Transliterasi:
Nawaitu shauma ghadin ‘an qadhā’i fardhi Ramadhāna lillāhi ta’ālā.
Artinya:
“Saya berniat puasa besok untuk mengqadha kewajiban puasa Ramadhan karena Allah Ta’ala.”
Perhatikan perbedaan lafalnya dengan niat gabungan. Yang ini hanya menyebutkan niat qadha fardhu Ramadhan.
Niat Puasa Sunnah Dzulhijjah Saja¶
Niat ini digunakan kalau kamu nggak punya utang puasa Ramadhan atau utangmu sudah lunas, dan kamu murni ingin menjalankan puasa sunnah di hari Dzulhijjah.
Lafal Arab:
نَوَيْتُ صَوْمَ هَذَا الْيَوْمِ عَنْ أَدَاءِ سُنَّةِ شَهْرِ ذِي الْحِجَّةِ لِلَّهِ تَعَالَى
Transliterasi:
Nawaitu shauma hādzal yaumi ‘an adā’i sunnati syahri Dzil Hijjah lillāhi ta’ālā.
Artinya:
“Saya berniat puasa sunnah bulan Dzulhijjah hari ini karena Allah ta’ala.”
Atau bisa juga menggunakan niat yang lebih sederhana untuk puasa sunnah mutlak di hari-hari Dzulhijjah:
Lafal Arab:
نَوَيْتُ صَوْمَ سُنَّةِ ذِي الْحِجَّةِ لِلَّهِ تَعَالَى
Transliterasi:
Nawaitu shauma sunnati Dzil Hijjah lillāhi ta’ālā.
Artinya:
“Saya berniat puasa sunnah Dzulhijjah karena Allah Ta’ala.”
Penting untuk diingat bahwa niat puasa sunnah bisa dilakukan di pagi hari selama belum makan atau minum (belum melakukan hal yang membatalkan puasa) sejak fajar. Sedangkan niat puasa wajib atau qadha, harus sudah terlintas di hati (atau diucapkan) sejak malam hari sebelum fajar menyingsing. Kalau kamu menggabungkan niat qadha (wajib) dan sunnah, maka niatnya mengikuti hukum puasa wajib, yaitu harus dilakukan di malam hari.
Meraih Keutamaan Dzulhijjah Sambil Melunasi Kewajiban¶
Hari ke-4 Dzulhijjah ini adalah pengingat bagi kita betapa cepatnya waktu berlalu. Kesempatan emas di sepuluh hari pertama Dzulhijjah ini sangat sayang kalau dilewatkan. Bagi kamu yang masih punya utang puasa Ramadhan, jangan berkecil hati karena merasa nggak bisa dapat pahala puasa sunnah Dzulhijjah secara murni.
Justru ini adalah kesempatan unik yang diberikan Allah. Kamu bisa “menyelam sambil minum air”, melunasi kewajiban yang merupakan prioritas utama sambil mendapatkan bonus pahala sunnah di hari yang mulia. Ini menunjukkan betapa Allah mencintai hamba-Nya yang berusaha menunaikan kewajiban sambil memanfaatkan waktu-waktu terbaik untuk beramal saleh.
Ingat ya, qadha puasa Ramadhan itu hukumnya fardhu ‘ain, wajib atas setiap individu muslim yang punya utang. Kewajiban ini harus ditunaikan secepatnya atau sebelum datang Ramadhan berikutnya. Menunda-nunda qadha tanpa alasan syar’i itu kurang baik. Jadi, memanfaatkan momen Dzulhijjah untuk mengqadha adalah langkah yang bijak dan berpahala ganda insya Allah.
Selain puasa, sepuluh hari pertama Dzulhijjah juga adalah waktu terbaik untuk memperbanyak amal saleh lainnya lho. Misalnya, memperbanyak dzikir (takbir, tahlil, tahmid), membaca Al-Qur’an, bersedekah, shalat sunnah, dan lain sebagainya. Semua amal baik di hari-hari ini punya nilai yang istimewa di sisi Allah SWT.
Jadi, yuk manfaatkan sisa hari-hari emas di bulan Dzulhijjah ini semaksimal mungkin. Buat yang masih punya utang puasa, niatkan qadha di hari-hari ini dan raih juga keutamaan puasa sunnahnya. Buat yang sudah lunas, mari perbanyak puasa sunnah Dzulhijjah dan amal saleh lainnya. Jangan sia-siakan momen berharga ini!
Semoga Allah menerima semua amal ibadah kita dan memberikan keberkahan di bulan Dzulhijjah ini.
Gimana nih, ada yang udah mulai puasa Dzulhijjah hari ini? Atau ada yang lagi mengqadha utang puasa Ramadhan? Share dong pengalaman atau pertanyaan kalian di kolom komentar!
Posting Komentar