Qadha Ramadhan + Puasa Tarwiyah & Arafah: Boleh Digabung? Ini Hukumnya!

Table of Contents

Hukum Qadha Puasa Ramadhan Digabung dengan Puasa Tarwiyah dan Puasa Arafah

Udah jadi kebiasaan tahunan umat Islam dianjurkan banget buat puasa di hari-hari istimewa menjelang Idul Adha, terutama puasa Tarwiyah (8 Dzulhijjah) dan puasa Arafah (9 Dzulhijjah). Puasa Arafah, khususnya, punya keutamaan luar biasa, bisa menghapus dosa setahun lalu dan setahun yang akan datang. Nah, seringkali muncul pertanyaan klasik tiap tahun: gimana kalau kita masih punya utang puasa Ramadhan nih? Boleh nggak ya digabung niatnya sama puasa Tarwiyah atau Arafah ini?

Pertanyaan ini wajar banget, mengingat puasa Ramadhan itu hukumnya wajib alias fardhu, sementara puasa Tarwiyah dan Arafah itu sunnah. Kalau digabung, kira-kira sah nggak puasanya? Terus, dapat pahala sunnahnya juga nggak ya? Ini penting banget buat kita yang pengen ngejar keutamaan di bulan Dzulhijjah tapi di sisi lain juga wajib bayar utang puasa Ramadhan.

Hukum Menggabungkan Niat Puasa

Menurut penjelasan dari Ustadz Alhafiz Kurniawan, beliau ini Wakil Sekretaris Lembaga Bahtsul Masail Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LBM PBNU), menggabungkan niat puasa qadha Ramadhan dengan puasa sunnah Tarwiyah atau Arafah itu dibolehkan dan sah. Jadi, utang puasa Ramadhannya sah terbayar, dan uniknya, orang yang menjalankannya tetap mendapatkan keutamaan puasa sunnah yang bertepatan di hari itu. Ini kabar baik banget buat kita yang pengen double pahala.

Beliau menjelaskan bahwa praktik menggabungkan niat ini diqiyaskan atau dianalogikan dengan kasus puasa qadha di hari Asyura (10 Muharram). Ada pandangan dari ulama besar seperti Syekh Zakariya Al-Anshari dalam kitabnya Asnal Mathalib yang menyebutkan hal serupa. Menurut Al-Barizi, salah satu ulama yang dikutip beliau, kalau seseorang puasa di hari Asyura dengan niat qadha puasa atau puasa nazar, dia tetap dapat pahala puasa sunnah hari Asyura.

Jadi, intinya adalah niat utama kita adalah qadha Ramadhan, tapi karena kebetulan atau memang sengaja dijalankan di hari yang punya keutamaan sunnah (seperti Arafah), maka kita secara otomatis juga dapat limpahan pahala sunnah dari hari tersebut. Ini mirip kayak orang masuk masjid dengan niat i’tikaf (sunnah), tapi niat utamanya adalah salat wajib. Dia tetap dapat pahala salat wajib dan pahala i’tikaf. Konsep ini dalam fiqh dikenal dengan tasyriq atau ‘tergabungnya’ pahala.

Dasar dan Pendapat Ulama Lain

Pandangan ini ternyata bukan pandangan tunggal, lho. Ada banyak ulama lain yang sependapat. Syekh Zakariya Al-Anshari juga menyebutkan bahwa pandangan ini disepakati oleh beberapa ulama lain seperti Al-Ushfuwani, Al-Faqih Abdullah An-Nasyiri, dan Al-Faqih Ali bin Ibrahim bin Shalih Al-Hadhrami. Ini menunjukkan bahwa pendapat tentang bolehnya menggabung niat ini punya dasar yang kuat dalam khazanah keilmuan Islam, khususnya dalam mazhab Syafi’i.

Sayyid Bakri dalam kitab I’anatut Thalibin juga menyampaikan hal senada. Beliau menjelaskan bahwa seseorang yang berpuasa pada hari-hari yang sangat dianjurkan untuk berpuasa sunnah di dalamnya, meskipun niatnya adalah qadha puasa atau puasa nazar (bukan puasa sunnah hari itu), maka ia akan tetap mendapatkan keutamaan puasa sunnah di hari tersebut. Ini menekankan bahwa keutamaan hari itu melekat pada pelaksanaan puasa di hari tersebut, terlepas dari niat spesifik puasa sunnahnya.

Ustadz Alhafiz mengutip Sayyid Bakri yang merujuk pada nash dalam Asnal Mathalib dan kitab-kitab sejenis seperti karya Al-Khatib As-Syarbini, Syekh Sulaiman Al-Jamal, dan Syekh Ar-Ramli. Mereka semua sepakat bahwa puasa sunnah pada hari-hari tertentu memang dianjurkan karena hari tersebut punya keutamaan. Oleh karena itu, siapapun yang berpuasa di hari itu dengan niat apapun yang sah, akan tetap mendapatkan keutamaan hari tersebut. Luasnya rahmat Allah ya!

Keutamaan Puasa Tarwiyah dan Arafah

Nah, ngomong-ngomong soal puasa Tarwiyah dan Arafah, sebenarnya seberapa besar sih keutamaannya sampai banyak umat Islam berlomba-lomba mengerjakannya? Puasa ini dilakukan pada delapan dan sembilan Dzulhijjah, tepat sebelum hari raya Idul Adha. Sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah sendiri punya kedudukan yang sangat mulia dalam Islam, bahkan ada riwayat yang menyebutkan amal saleh yang dilakukan di hari-hari ini lebih dicintai Allah daripada jihad di jalan-Nya.

Puasa di hari Tarwiyah (8 Dzulhijjah) memiliki keutamaan menghapus dosa selama setahun yang lalu. Sementara itu, puasa di hari Arafah (9 Dzulhijjah), bagi mereka yang tidak sedang menunaikan ibadah haji di Arafah, punya keutamaan yang lebih besar lagi, yaitu menghapus dosa selama dua tahun: setahun yang telah berlalu dan setahun yang akan datang. Keutamaan ini disebutkan dalam hadits shahih riwayat Imam Muslim. Makanya, puasa Arafah ini jadi target banyak Muslim di seluruh dunia.

Mengingat besarnya keutamaan ini, wajar kalau kita nggak mau melewatkannya. Apalagi kalau ternyata bisa digabung sama bayar utang puasa Ramadhan, jadi two birds with one stone, sekali dayung dua pulau terlampaui. Tapi ingat, keutamaan ini berlaku bagi yang tidak sedang berhaji di Arafah ya. Jemaah haji justru tidak disunnahkan puasa Arafah agar kuat menjalankan wukuf.

Pentingnya Mengqadha Puasa Ramadhan

Sebelum terlalu fokus ke puasa sunnah, kita nggak boleh lupa kalau puasa Ramadhan itu hukumnya wajib. Mengqadha atau mengganti puasa yang terlewat di bulan Ramadhan adalah kewajiban syar’i yang harus ditunaikan sebelum Ramadhan berikutnya tiba. Meninggalkan qadha puasa tanpa alasan yang dibenarkan syariat sampai masuk Ramadhan berikutnya itu dosa, dan bisa dikenakan denda (fidyah) selain tetap wajib mengqadha.

Jadi, mendahulukan qadha puasa Ramadhan itu sebenarnya lebih utama dan wajib hukumnya daripada mengejar puasa sunnah. Kewajiban harus diutamakan di atas kesunnahan. Namun, kasus penggabungan niat ini memberikan solusi bagi mereka yang punya utang qadha dan ingin mendapatkan keutamaan puasa di hari-hari istimewa Dzulhijjah.

Dalam kondisi ideal, kalau kita punya utang puasa Ramadhan, sebaiknya memang diselesaikan dulu utang tersebut. Kalau masih ada waktu dan kesempatan sebelum hari Tarwiyah/Arafah, maka selesaikan dulu qadhanya. Setelah itu baru deh, kalau mau, puasa sunnah Tarwiyah dan Arafah dengan niat sunnah murni. Itu cara paling ideal dan aman.

Prioritas dan Niat

Lalu, bagaimana kalau waktu sudah mepet? Misalnya, baru sadar punya utang puasa Ramadhan pas udah dekat banget sama hari Arafah? Ustadz Alhafiz Kurniawan memberikan saran praktis terkait hal ini. Beliau menyarankan, kalau utang puasa Ramadhan itu baru teringat menjelang hari Arafah, sebaiknya ia membayar qadha puasanya di hari Arafah tersebut.

Ini artinya, pada hari Arafah (atau Tarwiyah), niatkan puasa tersebut sebagai puasa qadha Ramadhan. Dengan niat qadha tersebut, kewajiban membayar utang Ramadhan terpenuhi. Dan karena puasa itu dilakukan di hari Arafah yang mulia, secara otomatis dia juga mendapatkan keutamaan puasa Arafah sebagaimana dijelaskan tadi. Jadi, niat utamanya qadha, bonusnya dapat pahala sunnah Arafah.

Niat Puasa Qadha Ramadhan

Untuk yang ingin menggabungkan niat, atau sekadar berpuasa qadha di hari Tarwiyah atau Arafah, berikut adalah lafal niat puasa qadha Ramadhan sebagaimana dicontohkan:

نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ قَضَاءِ فَرْضِ شَهْرِ رَمَضَانَ لِلَّهِ تَعَالَى

Artinya: Aku berniat puasa esok hari sebagai ganti (qadha) fardhu Ramadhan karena Allah Ta’ala.

Niat ini dibaca di malam hari sebelum terbit fajar. Jika puasa qadha dilakukan di hari yang sama (misal, bangun tidur baru berniat qadha), niatnya bisa diubah sedikit, namun yang paling umum adalah niat di malam hari. Kalau mau digabung niatnya, tetap utamakan lafal niat qadha Ramadhan ini. Dengan niat qadha ini di hari Tarwiyah atau Arafah, insyaallah pahala qadha dapat, pahala sunnah Tarwiyah/Arafah juga dapat.

Niat Menggabungkan (Opsional)

Beberapa ulama kontemporer memperbolehkan melafalkan niat gabungan, meskipun niat yang utama dan wajib adalah niat qadha. Contoh lafal niat gabungan bisa bervariasi, misalnya:

*Nawaitu shauma ghadin 'an qadha'i fardhi syahri Ramadhana wa sunnatan 'an yaumi 'Arafata/Tarwiyata lillahi ta'ala.*

Artinya: Aku berniat puasa esok hari sebagai ganti (qadha) fardhu Ramadhan dan puasa sunnah di hari Arafah/Tarwiyah karena Allah Ta’ala.

Namun, kembali ke pendapat ulama klasik yang dikutip, cukup dengan niat qadha di hari tersebut sudah otomatis mendapatkan keutamaan sunnahnya. Jadi, niat qadha saja sudah cukup dan sah. Melafalkan niat gabungan bisa dilakukan jika ingin memperjelas dalam hati, tapi secara fiqh, niat qadha di hari Arafah/Tarwiyah sudah mencakup keutamaan sunnahnya.

Nasihat Tambahan

Meskipun menggabungkan niat diperbolehkan dan sah serta mendapatkan keutamaan ganda, perlu diingat bahwa puasa qadha Ramadhan adalah kewajiban. Selesaikanlah kewajiban Anda secepat mungkin. Jangan tunda-tunda membayar utang puasa Ramadhan hanya karena menunggu momen puasa sunnah seperti Tarwiyah dan Arafah tiap tahun. Jika memungkinkan, bayar qadha di hari-hari biasa dulu.

Menggabungkan niat ini adalah solusi terbaik ketika waktu mepet, atau ketika kita ingin memanfaatkan momen mulia di hari Dzulhijjah tanpa mengabaikan kewajiban qadha. Intinya, jangan sampai utang puasa kita terus menumpuk. Manfaatkan hari-hari baik di Dzulhijjah ini untuk meraih keberkahan, baik dengan menunaikan kewajiban maupun mengejar kesunnahan.

Tabel Ringkasan

Jenis Puasa Hukum Syar’i Keterangan Boleh Digabung dengan Qadha? Keutamaan Jika Digabung di Hari Sunnah
Qadha Ramadhan Wajib (Fardhu) Mengganti puasa yang terlewat di bulan Ramadhan. Wajib dibayar sebelum Ramadhan berikutnya. Ya, di hari Tarwiyah/Arafah Tetap sah dan dapat keutamaan sunnah Tarwiyah/Arafah.
Sunnah Tarwiyah Sunnah Muakkad Dilaksanakan pada 8 Dzulhijjah. Keutamaan menghapus dosa setahun lalu. Ya, dengan niat qadha Didapat (bonus) meskipun niat utama qadha.
Sunnah Arafah Sunnah Muakkad Dilaksanakan pada 9 Dzulhijjah. Keutamaan menghapus dosa 2 tahun. Ya, dengan niat qadha Didapat (bonus) meskipun niat utama qadha.

Tabel ini semoga bisa memberikan gambaran singkat mengenai status hukum masing-masing puasa dan bagaimana konsep penggabungan niat ini bekerja. Intinya, jangan lewatkan kesempatan meraih pahala di hari-hari istimewa Dzulhijjah ini, tapi tetap prioritaskan kewajiban membayar utang puasa Ramadhan.

Semoga penjelasan ini bermanfaat ya! Hari-hari di bulan Dzulhijjah, khususnya 10 hari pertama, adalah momen emas untuk meningkatkan ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Manfaatkan sebaik-baiknya, termasuk dalam urusan membayar utang puasa dan mengejar pahala sunnah.

Ada pendapat atau pengalaman lain terkait menggabungkan puasa ini? Atau ada pertanyaan lebih lanjut? Yuk, bagiin di kolom komentar di bawah!

Posting Komentar