Ups! Ini Dia 10 Jurusan Kuliah dengan Prospek Gaji Terendah

Table of Contents

Jurusan Kuliah Gaji Terendah

Memilih jurusan kuliah memang jadi salah satu keputusan besar dalam hidup. Jurusan yang tepat bukan cuma ngebantu kamu nemuin passion dan ngembangin kemampuan, tapi juga bisa membuka pintu ke berbagai peluang karier yang sesuai. Selain jurusan itu sendiri, ternyata banyak juga faktor lain yang krusial buat ningkatin peluang kerja, misalnya pengalaman magang, keahlian tambahan di luar kurikulum, dan pastinya jaringan atau koneksi yang luas.

Nah, ngomongin soal prospek kerja, nggak bisa dipungkiri kalau urusan gaji juga jadi pertimbangan penting buat banyak calon mahasiswa dan orang tua. Meskipun nggak semua orang menjadikan gaji sebagai satu-satunya patokan, kenyataannya prospek penghasilan seringkali dikaitkan dengan “keberhasilan” atau “stabilitas” dalam berkarier. Ada beberapa bidang studi yang secara historis dan berdasarkan data survei cenderung menawarkan gaji awal yang lebih tinggi dibanding bidang lainnya.

Studi yang dilakukan oleh Georgetown University Center on Education and the Workforce, dalam laporannya berjudul “The College Payoff”, nunjukkin kalau pemegang gelar sarjana rata-rata punya potensi gaji 84 persen lebih tinggi dibanding mereka yang cuma lulus SMA. Ini jelas nunjukkin betapa pentingnya pendidikan tinggi dalam meningkatkan taraf hidup. Tapi menariknya, perbedaan gaji ini sangat bervariasi tergantung jurusan yang diambil.

Secara umum, bidang-bidang seperti Sains, Teknologi, Teknik, dan Matematika (STEM) diproyeksikan punya potensi penghasilan tertinggi. Ini karena lulusan dari bidang STEM banyak dicari di era digital dan industri modern yang sangat mengandalkan inovasi dan teknologi. Kebutuhan akan insinyur, ilmuwan data, developer software, dan peneliti terus meningkat, sehingga gaji yang ditawarkan pun cenderung kompetitif.

Selain STEM, jurusan di bidang Kesehatan dan Bisnis juga termasuk kategori bergaji tinggi. Profesi di bidang kesehatan seperti dokter, perawat, atau apoteker jelas punya peran vital dan tanggung jawab besar, yang tercermin dari kompensasinya. Sementara itu, lulusan bisnis dengan spesialisasi di bidang keuangan, manajemen operasional, atau analisis bisnis juga banyak dibutuhkan di berbagai sektor industri, mulai dari startup sampai perusahaan multinasional.

Perbedaan gaji antara jurusan dengan bayaran tertinggi dan terendah ini ternyata cukup signifikan lho. Laporan yang sama menyebutkan bahwa lulusan dari jurusan bergaji tertinggi bisa menghasilkan USD 3,4 juta (sekitar Rp 55 miliar) lebih banyak selama kariernya dibanding lulusan dari jurusan bergaji terendah. Makanya, nggak heran kalau banyak lulusan dari jurusan-jurusan yang punya prospek karier cemerlang dan gaji awal tinggi cenderung lebih puas dengan pilihan studi mereka.

Ambil contoh lulusan Ilmu Komputer. Gaji awal tahunan mereka bisa mencapai hampir USD 100.000 (sekitar Rp 1,6 miliar) di beberapa negara maju. Ini bikin mereka merasa sangat puas dengan keputusan memilih jurusan tersebut. Selain itu, lulusan kriminologi, teknik, keperawatan, serta bisnis dan keuangan juga termasuk kelompok yang umumnya puas karena prospek karier dan gajinya yang menjanjikan.

Namun, di sisi lain, ada juga lho lulusan yang justru menyesali pilihan jurusan mereka setelah lulus kuliah. Hal ini terungkap dari survei yang dilakukan oleh ZipRecruiter terhadap ribuan lulusan perguruan tinggi yang sedang mencari kerja. Menurut Sinem Buber, ekonom utama di ZipRecruiter, rasa penyesalan ini seringkali muncul ketika mereka dihadapkan pada realitas finansial setelah lulus.

Awalnya mungkin mereka memilih jurusan karena minat yang besar pada bidang tersebut. Tapi ketika mulai mencari kerja dan melihat tawaran gaji yang didapat, kenyataan finansial bisa jadi pukulan. Sinem Buber menjelaskan, “Ketika hampir tidak dapat membayar tagihan Anda, gaji Anda terasa menjadi lebih penting.” Situasi ekonomi global atau ketakutan akan resesi juga bisa membuat faktor keamanan kerja menjadi lebih krusial, yang seringkali juga dikaitkan dengan stabilitas finansial.

Meskipun gaji bukan segalanya, survei tersebut menunjukkan bahwa ada beberapa jurusan yang paling sering disesali oleh lulusannya karena prospek gajinya yang dianggap kecil. Penyesalan ini persentasenya cukup tinggi, bahkan di atas 50%. Ini bukan berarti jurusan-jurusan ini buruk atau tidak berharga sama sekali, tapi lebih ke ekspektasi finansial yang tidak sesuai dengan kenyataan pasar kerja untuk peran-peran awal.

10 Jurusan Kuliah yang Paling Sering Disesali Karena Prospek Gaji Rendah

Berikut ini adalah daftar 10 jurusan kuliah yang menurut survei sering disesali karena prospek gajinya yang relatif kecil, beserta persentase lulusan yang menyatakan penyesalan:

  1. Jurnalisme (87%): Lulusan jurnalisme banyak yang menyesal, kemungkinan karena perubahan besar di industri media dan pergeseran ke platform digital yang mungkin menawarkan gaji awal lebih rendah dibanding era media cetak atau televisi konvensional.
  2. Sosiologi (72%): Bidang ini mempelajari masyarakat dan perilaku manusia. Lulusannya dibekali kemampuan analisis dan riset sosial yang kuat, namun peran awal yang tersedia mungkin tidak selalu menawarkan kompensasi tinggi.
  3. Seni (72%): Meliputi seni rupa, seni pertunjukan, dan bidang kreatif lainnya. Karier di bidang seni seringkali membutuhkan waktu dan perjuangan ekstra untuk mencapai stabilitas finansial, terutama bagi seniman lepas.
  4. Komunikasi (64%): Mirip dengan jurnalisme, bidang komunikasi sangat luas. Meskipun banyak lulusannya bekerja di PR, marketing, atau korporat, posisi awal di beberapa sub-bidang mungkin belum menawarkan gaji yang tinggi.
  5. Pendidikan (61%): Profesi guru adalah profesi mulia dengan peran yang sangat penting bagi masa depan bangsa. Namun, di banyak negara, termasuk Indonesia, gaji guru, terutama di sekolah negeri pada level awal, masih sering jadi tantangan finansial.
  6. Manajemen Marketing & Riset (60%): Ini cukup mengejutkan karena marketing sering dianggap punya prospek bagus. Mungkin penyesalan ini datang dari spesialisasi tertentu dalam riset atau entry-level marketing yang gajinya belum sekompetitif bidang lain di manajemen bisnis.
  7. Pendamping Medis (56%): Atau Medical Assistant. Ini adalah peran pendukung yang krusial dalam layanan kesehatan, tapi biasanya membutuhkan pendidikan yang lebih singkat dari perawat atau dokter, sehingga gajinya juga relatif lebih rendah.
  8. Ilmu Politik dan Pemerintahan (56%): Lulusan ini seringkali bekerja di pemerintahan, LSM, atau partai politik. Gaji di sektor publik atau non-profit mungkin tidak setinggi sektor swasta pada posisi awal, meskipun ada potensi karier yang panjang.
  9. Biologi (52%): Bidang sains murni ini banyak mempelajari kehidupan. Lulusan biologi sering memulai karier sebagai asisten peneliti atau teknisi lab dengan gaji awal yang tidak terlalu tinggi, kecuali jika melanjutkan ke jenjang pascasarjana atau bidang yang lebih terspesialisasi seperti bioteknologi atau kedokteran.
  10. Sastra Inggris (52%): Lulusan sastra memiliki kemampuan analisis teks, menulis, dan komunikasi yang sangat baik. Namun, karier tradisional seperti guru atau editor mungkin memiliki struktur gaji yang berbeda dibanding bidang lain, meski banyak juga yang sukses di bidang content writing atau copywriting.

Perlu diingat bahwa daftar ini didasarkan pada survei di negara lain (Amerika Serikat), dan situasi di Indonesia mungkin ada perbedaan. Namun, tren bahwa bidang Liberal Arts, Humaniora, dan Ilmu Sosial Murni seringkali memiliki rata-rata gaji awal yang lebih rendah dibanding STEM atau Bisnis memang cukup universal.

Kenapa Beberapa Jurusan Punya Prospek Gaji Awal Lebih Rendah?

Ada beberapa faktor yang bisa menjelaskan perbedaan gaji antar jurusan, terutama pada level entry-level.

Pertama, permintaan pasar kerja. Industri tertentu, seperti teknologi, keuangan, dan kesehatan, saat ini memiliki permintaan yang sangat tinggi untuk talenta dengan keahlian spesifik. Ini membuat perusahaan bersaing menawarkan gaji tinggi untuk menarik lulusan terbaik di bidang tersebut. Di sisi lain, beberapa bidang lain mungkin memiliki persaingan yang lebih ketat untuk posisi yang tersedia, atau peran yang ditawarkan belum dianggap “krusial” dari sudut pandang bisnis sehingga gajinya tidak terlalu tinggi di awal.

Kedua, sifat pekerjaan. Beberapa pekerjaan yang terkait erat dengan jurusan-jurusan dalam daftar ini, seperti guru atau pekerja di sektor non-profit, seringkali memiliki misi sosial yang kuat dan mungkin tidak didorong oleh profit sebanyak perusahaan swasta. Ini bisa memengaruhi struktur gaji yang ditawarkan.

Ketiga, jalur karier. Di beberapa bidang, gaji awal mungkin rendah, tetapi potensi kenaikan gaji seiring pengalaman dan spesialisasi bisa sangat besar (misalnya di bidang riset atau akademis yang membutuhkan gelar lanjutan). Sementara di bidang lain, kurva kenaikan gaji mungkin lebih landai.

Bukan Cuma Jurusan: Faktor Lain yang Mempengaruhi Gaji

Penting banget buat diingat bahwa gaji yang kamu terima nanti nggak cuma ditentukan oleh jurusan kuliahmu lho! Ada banyak faktor lain yang berperan, di antaranya:

  1. Keahlian (Skills): Punya hard skill (misalnya kemampuan teknis, menguasai software tertentu, bahasa asing) dan soft skill (komunikasi, kepemimpinan, kerja sama tim, adaptasi) yang kuat jauh lebih penting dibanding sekadar gelar. Banyak lulusan dari jurusan yang gajinya dianggap rendah bisa sukses dan punya penghasilan tinggi karena mereka punya keahlian yang relevan dan dicari pasar.
  2. Pengalaman Kerja: Magang selama kuliah atau pengalaman kerja paruh waktu bisa jadi nilai tambah besar saat mencari kerja penuh waktu. Perusahaan lebih suka merekrut kandidat yang sudah punya gambaran dunia kerja dan pernah berkontribusi di lingkungan profesional.
  3. Jaringan (Networking): Kenal orang di industri yang dituju bisa membuka pintu kesempatan yang mungkin nggak tersedia melalui jalur umum. Ikut organisasi mahasiswa, seminar, atau career fair adalah cara bagus buat ngebangun jaringan.
  4. Lokasi: Biaya hidup dan kondisi pasar kerja sangat bervariasi di setiap kota atau negara. Bekerja di kota besar dengan biaya hidup tinggi biasanya punya standar gaji yang lebih tinggi dibanding di daerah.
  5. Industri dan Perusahaan: Lulusan dari jurusan yang sama bisa mendapatkan gaji yang sangat berbeda tergantung di industri apa mereka bekerja (misalnya, lulusan komunikasi di industri teknologi vs. di industri non-profit) dan seberapa besar serta menguntungkannya perusahaan tempat mereka bekerja.
  6. Gelar Lanjutan atau Sertifikasi: Mengejar gelar S2, S3, atau mengambil sertifikasi profesional di bidang yang relevan bisa meningkatkan nilai jual dan potensi gaji. Misalnya, lulusan biologi yang melanjutkan ke sekolah kedokteran atau lulusan sastra yang mengambil sertifikasi penerjemah tersumpah.
  7. Kemampuan Negosiasi Gaji: Setelah diterima bekerja, kemampuan bernegosiasi juga penting lho untuk mendapatkan kompensasi yang sesuai dengan keahlian dan pengalamanmu.

Memilih Jurusan: Gaji Bukan Segalanya

Meskipun data survei di atas bisa jadi masukan yang berharga, terutama dari sisi finansial, memilih jurusan kuliah nggak seharusnya cuma didasarkan pada prospek gaji tertinggi saja. Minat, bakat, dan nilai-nilai pribadi juga sangat penting. Kuliah di jurusan yang kamu minati dan kuasai bisa membuat proses belajar lebih menyenangkan dan memotivasi kamu untuk terus berkembang, yang pada akhirnya bisa mengarah pada karier yang sukses dan memuaskan, bahkan jika gaji awalnya tidak terlalu tinggi.

Banyak lulusan dari jurusan-jurusan yang disebutkan di atas menemukan kepuasan kerja yang mendalam, misalnya para guru yang melihat muridnya berhasil, pekerja sosial yang membantu komunitas, seniman yang karyanya diapresiasi, atau jurnalis yang mengungkap kebenaran. Kepuasan batin ini seringkali tidak bisa diukur dengan angka gaji.

Lagipula, data gaji terendah ini seringkali merujuk pada gaji rata-rata di level entry-level. Itu bukan berarti tidak ada lulusan dari jurusan tersebut yang berpenghasilan tinggi atau sukses. Dengan kerja keras, keahlian yang terus diasah, pengalaman, dan mungkin sedikit kreativitas dalam mencari jalur karier yang tidak konvensional, lulusan dari jurusan manapun punya kesempatan untuk mencapai kesuksesan finansial.

Video Terkait: Pilih Jurusan Kuliah? Ini Dia 10 Jurusan Kuliah yang Gajinya Dianggap Paling Kecil!

Sebagai referensi tambahan, kamu juga bisa cek video di bawah ini yang membahas topik serupa:




(Catatan: Ganti YOUR_VIDEO_ID dengan ID video YouTube yang relevan. Anda bisa mencarinya dengan kata kunci “jurusan kuliah gaji rendah” atau “prospek kerja gaji kecil”)

Memilih jurusan kuliah memang butuh riset dan pertimbangan matang. Jangan cuma terpaku pada tren atau kata orang, tapi cari tahu potensi karier di berbagai bidang, jenis pekerjaan apa yang bisa kamu lakukan, skill apa yang dibutuhkan, dan tentu saja, bagaimana proyeksi gajinya di masa depan. Bicaralah dengan senior, alumni, atau profesional di bidang yang kamu minati untuk mendapatkan gambaran yang lebih jelas.

Intinya, jangan sampai menyesal di kemudian hari karena kurang informasi saat memilih jurusan. Persiapkan diri sebaik mungkin, kembangkan keahlian yang relevan, dan bangun jaringan sejak dini. Dengan begitu, apapun jurusannya, kamu bisa punya peluang karier yang lebih baik.

Bagaimana menurutmu? Apakah ada jurusan lain yang kamu tahu punya prospek gaji yang menantang di awal karier? Atau mungkin kamu punya pengalaman menarik soal ini? Yuk, sharing di kolom komentar!

Posting Komentar